MATERI PENDIDIKAN KE-NU-AN
BAB I
SEJARAH ORGANISASI NAHDALATUL ULAMA
A. MOTIFASI KELAHIRAN NU
Pada
tahun 1914 KH. Abdul Wahab Hasbullah pulang dari Mekkah setelah
bertahun-tahun belajar di sana. Beliau terkenal ulama yang sangat
dinamis dan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan umat Islam dalam
suatu perkumpulan / organisasi keagamaan. Untuk mewujudkan hal itu,
beliau menggandeng ulama yang sangat Kharismatik, yaitu KH. Hasyim
As’ary Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang (JATIM).
Kedua
Ulama ini mencoba untuk mengorganisir dan memberi wadah serta
mempersatukan umat Islam (tradisionalis) di Indonesia . Untuk mewujudkan
hal tersebut ditempuh langkah-langkah :
- Pada tahun 1916 Kyai Wahab mendirikan Madrasah “Jam’iyatul Nahdlotul Wathon
“ di Surabaya. Madrasah ini berkembang dengan pesat dan membuka
cabang di Semarang, Malang, Sidoarjo, Gresik, Lawang, Pasuruan, dan
lain-lain.
- Pada tahun 1919 berdiri TASWIRUL AFKAR”,
sebuah madrasah dan forum diskusi keagamaan yang tujuan utamanya
memberi tempat untuk mengaji dan belajar serta untuk membela
kepentingan Islam.
- 3. Pada tahun 1924 berdiri organisasi “Syubhanul Wathon (pemuda tanah air),
organisasi ini mempunyai kegiatan membahas masalah agama, dakwah,
peningkatan pengetahuan bagi anggotanya, dan lain-lain.
Pada
tahun 1926 akan disenggarakan Kongres Islam sedunia di Makkah yang
diikuti perwakilan dari organisasi-organisasi Islam di dunia. Pada
tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 KH. A. Wahab Hasbullah
membentuk suatu komite yang bernama Komite Hijaz yang beranggotakan para
alim ulama dari berbagai daerah guna mengikuti Kongres tersebut. Dalam
rapat/sidang komite hijaz tersebut memutuskan dua hal, yaitu :
- Meresmikan
dan mengukuhkan Komite Hijaz dengan masa kerja samapai delegasi
yang akan dikirim menemui Raja Ibnu Saud dan mengirim delegasi ke
Kongres Islam di Makkah. Adapun yang dikirim ialah KH. Wahab
Hasbullah dan Syeikh Ahamad Ghunaim al Mishri.
- Membentuk sebuah Jam’iyyah (organisasi) yang bernama NAHDLATUL ULAMA’.
Denggan tujuan untuk membina terwujudnya masyarkat Islam
berdasarkan aqidah atau faham Ahlusunnah wal Jama’ah (ASWAJA).
Mayoritas
anggota NU berada di Jawa, khususnya JATIM, sepanjang pantura JATENG,
Cirebon, dan Banten. Adapun diluar Jawa meliputi : Banjar (KALSEL)
,Batak Mandailing (SUMUT), Bugis (SULSEL), Sasak dan Sumbawa (NTB).
Cabang tersebut beridri pada kurun waktu 1930-1940. Kiprah NU yang
paling menonjol ialah dibidang pendidikan, jumlah madrasah meningikat
pesat pada waktu 1920-1930-an. Unt6uk mengkoordinasikan kegiatan
pendidikan tersebut dibentuk Lembaga Pendidikan Ma’arif pada tahun 1938.
B. TOKOH-TOKOH PENDIRI NU
Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :
- KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) Jombang
- KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Jombang
- KH.Bisyri Sansoeri (1886 – 1962 ) Jombang
- KH. Ridwan Abdullah (1884 -1962) Semarang
- KH. Asnawi (1861-1959) Kudus
- KH. Ma’sum (1870-1972) Lasem
- KH. Nawawi, Pasuruan
- KH. Nahrowi, Malang
- KH. Alwi Abdul Aziz, Surabaya
C. NAMA DAN LAMBANG NU
Nahdlatul
Ulama adalah organisasi social keagamaan (Jam’iyyah Diniyah Islamiyah)
yang berhaluan (faham) Ahulusunnah wal Jamaah. Secara harfiah terdiri
dari kata
Nahdlah : Bangkit/Kebangkitan dan
‘Ulama : Orang-orang yang ahli agama, Jadi Nahdaltul Ulama berarti kebangkitan para alim-ulama. Nama NU disusulakan KH. Alwi Abdul Aziz dari Surabaya.
Lambang NU berupa :
- Gambar bola Dunia atau Bumi yang mengingatkan manusia itu berasal dari tanah dan kembali ke tanah.
- Dilingkari
Tali Tersimpul yang melambangkan ukhuwah atau persatuan, dan
ikatanya melambangkan hubungan dengan Allah SWT.
- Dikelilingi sembilan Bintang,
-
Lima bintang di atas katulistiwa,
satu bintang besar melambangkan Nabi Muhammad SAW, sedangkan empat
bintang dibawahnya melambangkan empat shahabat (khulafaur rosidin).
-
Empat bintang di bawah garis katulistiwa, melambangkan empat madzhab.
- Disamping itu jumlah seluruh
bintang sembalian juga melambangkan wali songo.
Jadi Nabi SAW, Shahabat, Imam Madzhab, dan wali songo yang akan memberikan sinar dan petunjuk jalan yang benar.
- Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia.
Semua
jenis lambing tersebut dilatarbelakangi warna putih di atas warna
hijau. Warna putih melambangkan kesucian dan warna hijau melambangkan
kesuburan. Lambang ini diciptakan oleh KH. Ridwan Abdullah dari Surabaya
setelah beliau melakukan shalat Istikharah.
SOAL LATIHAN BAB IV
- I. Pilihan Ganda
1. Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, telah berdiri beberapa organisasi yang menjadi embrio organisasi NU, Yaitu …..
A. Subbanul wathon, Sarikat Islam, Muhammadiyah
B. Nahdaltul Waton, Taswirul Afkar, Sarikat Dagang Islam
C. Nahdaltul Waton, Taswirul Afkar, Subbanul wathon
D. Sarikat Islam, Subbanul wathon, Nahdlatul Wathon
E. Budi Utomo, Muhammadiyah, Sarikat Dagang Islam
2. Pada tanggal 31 Januari 1926 Komite Hijaz bersidang dengan keputusan …
A. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi
B. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi Subbanul Wathon
C. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi Nahdlatul Wathon
D. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasiNahdlatul Ulama
E. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasiTaswirul Afkar
3. Nama “Nahdlatul Ulama” atas usulan …
|
A. KH. Hasyim As’ary
|
D. KH. Alwi Abdul Aziz
|
|
B. KH. Wahab Hasbullah
|
E. KH. Ridlwan
|
|
C. KH. Asnawi Kudus
|
|
4. Sebuah organisasi yang menggalang para pemuda untuk di bina dasar-dasar keagamaan dan wawasan kebangsaan ialah ..
|
A. Subbanul wathon
|
D. LP Ma’arif
|
|
B. Taswirul Afkar
|
E. Sarikat Islam
|
|
C. Nahdlatul Wathon
|
|
5. Nahdlatul Ulama adalah organisasi sosial keagamaan yang berfaham …
|
A. Wahabiyah
|
D. Ahlusunnah wal Jamaah
|
|
B. As’ariyah
|
E. Maturidiyah
|
|
C. Mu’tazilah
|
|
6. ”Habluminallah wa habluminannas” adalah salah satu makna yang terdapat dalam lambang NU yaitu berupa …..
|
A. lima bintang di atas garis katulistiwa
|
D. tali yang tersimpul
|
|
B. lima bintang di bawah garis katulistiwa
|
E. tali yang mengitari bola dunia
|
|
C. bola dunia
|
|
“ Manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah ”, dalam Lambang NU disimbulka berupa ….
|
A. lima bintang di atas garis katulistiwa
|
D. tali yang tersimpul
|
|
B. lima bintang di bawah garis katulistiwa
|
E. tali yang mengitari bola dunia
|
|
C. bola dunia
|
|
|
8. 1. KH. Abdurrahman Wahid
2. KH. Bisri Sansuri
3. KH. Hasyim Muzadi
|
4. KH. Asnawi Kudus
5. KH. Alwi Abdul Aziz
|
Tokoh-tokoh pendiri NU ditunjukkan pada nomor …
|
A. 2,3,4
|
D. 3,4,5
|
|
B. 1,2,5
|
E. 1,2,3
|
|
C. 2,4,5
|
|
9. Nahdlatul Wathon adalah sebuah madrasah yang didirikan oleh …
|
A. KH. Alwi Abdul Aziz
|
D. KH. Ridlwan
|
|
B. KH. Adnawi Kudus
|
E. KH. Bisri Sansuri
|
|
C. KH. Wahab Hasbullah
|
|
10.
Dalam rangka memperkuat dan mengembangkan NU, pada awal berdirinya NU
lebih berperan dalam bidang pendidikan, diantaranya dengan membentuk
lembaga pendidikan yang bernama Ma’arif yang berdiri pada tahun …
|
A. 1914
|
D. 1938
|
|
B. 1924
|
E. 1948
|
|
C. 1926
|
|
BAB V
SISTEM KEORGANISASIAN NU
A. KEPENGURUSAN NU
Kepengurusan NU terdiri dari tiga bagian, yaitu ;
- Mutasyar;
Penasehat yang secara kolektif memberikan nasehat kepada pengurus
NU menurut tingkatannya dalam rangka menjaga kemurnian, khothah
nahdliyah, agama, dan menyelesaikan persengketaan.
- Syuriyah;
merupakan pemimpin tertinggi NU yang berfungsi pemembina,
pengendali, pengawas, dan penetu kebijakan dalam usaha mewujudkan
tujuan organisasi. Tanfidziyah.
- Tanfidziyah; pelaksana harian organisasi NU yang bertugas :
- Memimipin jalanya organisasi
- Melaksanakan program NU
- Memahami dan mengawasi kegiatan semua perangkat organisasi dibawahnya.
- Menyampaikan laporan secara pereodik kepada syuriyah tentang pelaksanaan tugas.
B. TINGKAT KEPENGURUSAN
1.
Pengurus Besar NU (PBNU)
Pengurus
besar adalah kepengurusan NU ditingkat pusat dan berkedudukan di Ibu
kota negara Indonesia. Pengurus besar merupakan penganggung jawab
kebijakan dalam pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusan
muktamar.
2.
Pengurus Wilayah NU (PWNU)
Pengurus Wilayah adalah kepengurusan ditingkat Porpinsi yang berkedudukan di Ibu kota Propinsi.
3.
Pengurus Cabang NU (PCNU)
Pengurus Cabang adalah kepengurusan U ditingkat kabupaten/kota yang berkedudukan ditingkat kabupaten
4.
Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWCNU)
Pengurus MWC adalah kepengurusan ditingkat kecamatan atau daerah yang disamakan
5.
Pengurus Ranting NU (PRNU)
Pengurus Ranting ialah kepengurusan NU ditingkat Desa/Kleurahan atau daerah yang disamakan.
C. SISTEM PERMUSYAWARATAN
Lembaga permusyawaratan NU meliputi :
- 1. Muktamar
Lembaga
permusyawaratan tertinggi dalam NU, diadakan selambat-lambatnya sekali
dalam lima tahun, dilaksanakan oleh PBNU yang dihadiri oleh Pengurus
Besar, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang seluruh Indonesia, serta
para ulama dan undangan dari tenaga ahlu yang berkompeten. Muktamar
membahas persoalan-persoalan sosial dan agama, program pembangunan NU,
laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar, menetaptkan AD/ART, serta
memilih penguru PBNU yang baru
- 2. Musyawarah Nasional alim Ulama
Musyawarah
alim ulama adalah musyawarah yang diselenggarakan para alim ulama oleh
Pengurus Besar Syuriyah, satu kali dalam satu pereode untuk membahas
masalah-masalah agama.
- 3. Konfensi Besar
Konfrensi
Besar dilaksanakan oleh pengurus Besar atas permintaan
sekurang-kurangnya separoh dari jumlah pengurus Wilayah yang sah.
Konfrensi Besar dilaksanakan untuk membahas keputusan muktamar, mengkaji
perkembangan organisasi, dan membahas social keagamaan.
- 4. Konfrensi Wilayah
Konfrensi
Wilayah dilaksanakan lima tahun sekali yang dihadiri pengurus wilayah
dan utusan-utusan cabang untuk membahas pertanggungjawaban pengurus
Wilayah, menyusun program kerja, membahas masalah keagamaan dan social,
serta memilih pengurus PWNU yang baru.
- 5. Konfrensi Cabang
Konfrensi
Cabang dilaksanakan lima tahun sekali yang dihadiri pengurus Cabang dan
utusan dari Pengurus MWC dan Ranting untuk membahas pertanggungjawaban
pengurus Cabang menyusun program kerja, membahas masalah keagamaan dan
social, serta memilih PCNU yang baru.
- 6. Konfrensi Majlis Wakil Cabang
Konfrensi
MWC lima tahun sekali yang dihadiri pengurus MWC dan ranting, untuk
membahas pertanggungjawaban pengurus MWC, menyusun program kerja,
membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih pengurus MWC yang
baru.
- 7. Rapat anggota
Rapat
anggota dilaksanakan lima tahun sekali yang dihadiri pengurus ranting
untuk membahas pertanggungjawaban pengurus Ranting, menyusun program
kerja, membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih pengurus
PRNU yang baru.
D. PERANGKAT ORGANISASI NU
1. Lembaga
Perangkat organisasi yang berfungsi pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan satu bidang tertentu.
Adapun lembaga-lembaga NU meliputi :
- Lembaga Dakwah NU (LDNU)
- Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (LP Ma’arif NU)
- Lembaga Sosial Mabarut NU (LSMNU)
- Lembaga Perekonomian NU (LPNU)
- Lembaga Pembangunan dan Pengembangan Pertanian (LP2NU)
- Rabithah Ma’ahid al Islamiah (RMI); Pengembangan bidang Pondok Pesantren
- Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU)
- Ha’iyah Ta’miril Masjid Indonesia (HTMI)
- Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM)
- Lembaga Seni Budaya NU (LSBNU)
- Lembaga Pengembangan Tenaga Kerja NU (LPTKNU)
- Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU (LPBHNU)
- Lembaga Pencak Silat (LPS)
- Jam’yyah Qura wal Huffadz (JQH): Bidang Pengembanga Tilawah, Metode pengajaran dan penghafalan Al-qur’an.
2. Lajnah
Perangkat Organisasi NU untuk melaksanakan program yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah NU meliputi:
- Lajnah Falakiyah: bertugas menangani Hisab dan Ru’yah
- Lajnah Ta’lif wa Nasyr: bertugas menangani penerjemah, penyusunan, dan penyebaran kitab-kitab.
- Lajnah Auqaf: bertugas menghimpun, mengurus, dan mengelola tanah serta bangunan yang diwaqafkan.
- Lajnah Zakat Infaq dan Shodaqoh: bertugas menghimpun, mengelola, dan mentsharafkan zakat, infaq dan sedekah.
-
Lajnah Bahtul Masail Diniyah: bertugas menghimpun, membahas, dan
memecahkan masalah-masalah yang maudlu’iyah dan waq’iyah yang segera
mendapatkan kepastian hukum.
- Badan Otonam
Perangkat
organisasi NUyang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu, dan
beranggotakan perseorangan. Badan otonom berhak mengatur kepengurusan
dan rumah tangganya sendiri yang ditetapkan melalui kongres.
Badan Otonom dalam NU adalah:
- Jam’iyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah, Badan Otonom yang menghimpun pengikut thariqah di lingkungan NU
- Muslimat NU: Badan Otonom yang menghimpun anggota perempusn NU
- Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor): Badan Otonom yang menghimpun pemuda NU.
- Ikatan putra NU (IPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri laki-laki.
- Ikatan Putra-putri NU (IPPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri perempuan.
- Ikatan Sarjana NU (ISNU): Badan Otonom yang menghimpun para sarjana dan kaum intelek NU.
E. KEANGGOTAAN NU
Keanggotaan NU dapat diklasifikasi menjadi :
- 1. Anggota Biasa
Setiap
warga Negara Indonesia yang beragama Islam yang beragama Islam,
menganut salah satu madzhab empat, baligh, mengetahui aqidah, asas,
tujuan, usaha-usaha, dan sanggup melaksanakan semua keputusan NU.
- 2. Anggota luar Biasa
Setiap
orang beragama Islam, baliq, menyetujui akidah, asas, tujuan,
usaha-usaha NU, namun yang bersangkutan berdomisili secara tetap di luar
wilayah Indonesia.
- 3. Anggota Kehormatan
Setiap
orang yang bukan anggota biasa atau luar biasa yang dianggap telah
berjasa kepada NU dan ditetapkan dalam keputusan pengurus besar.
SOAL LATIHAN BAB V
1.
Kepengurusan NU yang bertugas memberi petunjuk, pembinaaan dan
bimbingan dalam memahami dan mengamalkan serta mengembangakan paham
Ahlusunnah wal Jamaah ialah …
|
A. Mutasyar
|
D. Lajnah
|
|
B. Tanfidziyah
|
E. Syuriyah
|
|
C. Badan Otonom
|
|
2. Salah satu tugas Tanfidziyah ialah ….
A. Melaksanakan program NU
B. Memberi nasehat kepada pengurus NU menurut tingkatanya
C. Mengendalikan, mengawasi dan memberi koreksi terhadap perangkat NU
D. Membimbing, mengarahkan, dan mengawasi Badan Otonom, Lembaga, dan Lajnah
E. Membatalkan keputusan apabila dinilai bertentangan dengan ajaran Islam
3. Perangkat organisasi NU yang bertugas untuk melaksanakan program NU yang memerlukan penanganan khusus adalah …
|
A. Lembaga
|
D. Badan Otonom
|
|
B. Departemen
|
E. Badan Usaha
|
|
C. Lajnah
|
|
4. Lembaga NU yang bertugas dalam bidang pengembangan sumberdaya manusia ialah …
|
A. LP2NU
|
D. LAKPESDAM
|
|
B. RMI
|
E. LPBHNU
|
|
C. LSBNU
|
|
5. Jam’yah Quro’ wal Hufadz adalah lembaga NU yang bertugas dalam bidang …
A. penyiaran agama Islam ala Ahlusunnah wal Jamaah
B. pengembangan tilawah, metode pengajaran dan penghafalan Al Qur’an
C. penyuluhan dan pemebrian bantuan hukum
D. pengembangan seni dan budaya
E. pembangunan dan pengembaga pertanian
6.
7.
Pondok pesantren merupakan tulang punggung dalam pembanguna dan
pengembangan NU, untuk itu dibentuk suatu lembaga yang bertugas
menangani pengembangan Pondok Pesantren, yaitu …
|
A. LKKNU
|
D. LP Ma’arif
|
|
B. LPTKNU
|
E. LDNU
|
|
C. RMI
|
|
8. Dalam rangka meningkat mutu pendidikan , maka NU mendirikan lembaga pendidikan yang disebut …
|
A. Tarbiyyah
|
D. Thoriqoh
|
|
B. Al ‘Ulum
|
E. Lembaga Pendidikan
|
|
C. Ma’arif
|
|
9.
10. Lajnah Falakiyah bertugas mengurus masalah Hisab dan Ru’yah, yaitu masalah …
|
A. Perhitungan nishab Zakat
|
D. perhitungan kalender Hijriyah
|
|
B. Penentuan orang yang berhak menerima ZIS
|
E. perhitungan kalender Masehi
|
|
C. penentuan orang yang menerima Waqaf
|
|
11. Badan Otonom NU yang menghimpun para pelajar laki-laki dan perempuan ialah …
|
A. GP ANSOR, FATAYAT
|
D. IPPNU, GP ANSOR
|
|
B. IPNU, GP ANSOR
|
E. IPNU, IPPNU
|
|
C. IPNU, FATAYAT
|
|
12. Fatayat adalah badan otonom yang menghimpun …..
|
A. para perempuan muda
|
D. para perempuan-perempuan NU
|
|
B. para perempuan muda yang masih pelajar
|
E. kaum intelekdan sarjana NU
|
|
C. para perempuan muda dan mahasiswi
|
|
13.
Kepengurusan organisasi NU yang bertanggung jawab terhadap pengendalian
organisasi dan pelakanaan keputusan Muktamar ialah … .
|
A. Pengurus Cabang
|
D. Pengurus Kecamatan
|
|
B. Pengurus Wilayah
|
E. Pengurus Desa
|
|
C. Pengurus Besar
|
|
14. Kepengurusan NU ditingkat Kabupaten/Kota ialah … .
|
A. Pengurus Desa
|
D. Pengurus Cabang
|
|
B. Pengurus Wilayah
|
E. Pengurus Besar
|
|
C. Pengurus Kecamatan
|
|
15. Sesuai dengan system permusyawaratan NU, untuk memilih pengurus NU tingkat Propinsi maka harus dilaksanakan … .
|
A. Rapat anggota
|
D. Muktamar
|
|
B. Konfrensi MWC
|
E. konfrensi Wilayah
|
|
C. Konfrensi Cabang
|
|
16. Konfrensi yang diselenggarakan lima tahun sekali untuk memilih pengurus NU tingkat kecamatan disebut … .
|
A. Muktamar
|
D. Konfrensi MWC
|
|
B. Konfrensi Wilayah
|
E. Rapat anggota
|
|
C. Konfrensi Cabang
|
|
17. Anggota Luar biasa NU ialah … .
A. Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan NU
B. Setiap orang yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan NU
C. Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan Pancasila
D. Setiap orang yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan Pancasila
E. Setiap orang yang beragama Islam, baligh dan sudah berjasa kepada NU
BAB VI
PERANAN NU DALAM DINAMIKA
SEJARAH INDONESIA
- 1. NU PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA
Pada
awal pereode berdirinya, NU lebih mengutamakan pembentukan persatuan
dikalangan umat Islam untuk melawan colonial belanda. Untuk
mempersatukan umat islam, KH. Hasyim As’ary melontarkan ajakan untuk
bersatu dan menhajukan prilaku moderat. Hal ini diwujudkan dalam sebuah
konfederasi, Majlis Islam A’la Indonesia(MIAI) yang dibentuk pada tahun
1937.
Perjuangan NU diarahkan pada dua sasaran, yaitu :
Pertama, NU
mengarahkan perjuanganya pada upaya memperkuat aqidah dan amal ibadah
ala ASWAJA disertai pengembangan persepsi keagamaan, terutama dalam
masalah social, pendidikan, dan ekonomi.
Kedua; Perjuangan NU diarahkan kepada kolonialisme Belanda dengan pola perjuangan yang bersifat cultural untuk mencapai kemerdekaan.
Selain
itu, sebagai organisasi social keagamaan NU bersikap tegas terhadap
kebijakan colonial Balanda yang merugikan agama dan umat Islam. Misalnya
: NU menolak berpartisipasi dalam Milisia (wajib militer), menetang
undang-undang perkawinan, masuk dalam lembaga semu Volksraad, dan
lain-lain.
- 2. NU PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG
Pada
masa penjajahan Jepang semua organisasi pergerakan nasional dibekukan
dan melarang seluruh aktivitasnya, termasuk NU. Bahkan KH. Hastim
Asy’ary (Rois Akbar) dipenjarakan karena menolak penghormatan kaisar
Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah timur pada waktu-waktu
tertentu.
Mengantisipasi prilaku Jepang, NU melakukan
serangkaian pembembenahan. Untuk urusan ke dalam diserahkan kepada KH.
Nahrowi Thohir sedangkan urusan keluar dipercayakan kepada KH. Wahid
Hasyim dan KH. Wahab Hasbullah. Program perjuangan diarahkan untuk
memenuhi tiga sasaran utama, yaitu :
- Menyelamatkan aqidah Islam dari faham Sintoisme, terutama ajaran Shikerei yang dipaksakan oleh Jepang.
- Menanggulangi krisis ekonomi sebagai akibat perang Asia Timur
- Bekerjasama dengan seluruh komponen Pergerakan Nasional untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan.
Setelah
itu, Jepang menyadari kesalahanya memperlakukan umat Islam dengan tidak
adil. Beberapa organisasi Islam kemudian dicairkan pembekuanya. Untuk
menggalang persatuan, pada bulan Oktober 1943 dibentuk federasi antar
organisasi Islam yang diberi nama Majlis Syuro Muslimin Indonesia
(MASYUMI). Pada bulan Agustus 1944 dibentuk
Shumubu(Kantor Urusan Agama) untuk tingkat pusat, dan
Shumuka untuk tingkat daerah.
- 3. NU PADA MASA KEMERDEKAAN
Pada
tanggal 7 September 1944 Jepang mengalami kekalahan perang Asia Timur,
sehingga pemerintah jepang akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia.
Untuk itu dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI). BPUPKI berangggotakan 62 orang yang diantaranya
adalah tokoh NU (KH. Wahid Hasyim dan KH. Masykur).
Materi pokok
dalam diskusi-diskusi BPUPKI ialah tentang dasar dan bentuk Negara.
Begitu rumitnya pembahasan tentang dasar dan falsafah Negara makadi
sepakati dibentuk “Panitia Sembilan”. Dalam panitia kecil ini NU
diwakili oleh KH. Wahid Hasyim, hasilnya disepakati pada dasar Negara
mengenai “Ketuhanan” ditambah dengan kalimat “Dengan kewajiaban
menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluknya”. Keputusan ini dikenal
dengan “Piagam Jakarta”.
Sehari setelah Indonesia merdeka, Moh
Hatta memanggil empat tokoh muslim untuk menanggapi usulan keberatan
masyarkat non muslim tentang dimuatnya Piagam Jakarta dalam pembukaan
UUD 1945. Demi menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa, KH. Wahid Hasyim
mengusulkan agar Piagam Jakarta diganti dengan “Ketuhanan yang Maha
Esa”. Kata “Esa” berarti keesaan Tuhan (Tauhid) yang ada hanya dalam
agama Islam, dan usul ini diterima.
Pada 16 September 1945
tentara Belanda (NICA) tiba kembali di Indonesia dengan tujuan ingin
kembali menguasai Indonesia. Melihat ancaman tersebut, NU segera
mengundang para utusan dan pengurus seluruh Jawa dan madura dalam sidang
Pleno Pengurus Besar pada 22 Oktober 1945. Pada rapat tersebut
dikeluarkan “Resulusi Jihad” yang secara garis besar berisi :
- Kemerdekaqan Indonesia wajib dipertahankan
- Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah wajib dibela dan diselamatkan.
- Musuh RI , terutama Belanda pasti akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
- Umat
Islam terutama warga NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda
dan kawan-kawanya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
- Kewajiban Jihad tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim (Hukumnya fardlu ‘Ain).
Resulusi
Jihad ini benar-benar menjadi inspirasi bagi berkobarnya semangat juang
Arek-Arek Surabaya dalamperistiwa 10 November 1945 yang dikenal
dengan”Hari Pahlawan”.
- 4. NU DALAM MENGISI KEMERDEKAAN
Setelah
Proklamasi kemerdekaan, hamper semua organisasi Islam sepakat
menjadikan MASYUMI sebagai partai politik, termasuk NU. Namun pada tahun
1950 NU memutuska untuk keluar dari MASYUMI karena terjadi konflik
intern. Pada Muktamar NU ke -19 di Palembang 1952 memutuskan menjadi
Partai Politik, dengan demikian NU memasuki dunia politik secara otonom
dan terlubat langsung dalam persoalan-persoalan Negara. Untuk
melapangkan jalan di dunia polotik, NU masuk dalam kabinet Ali Sastro
Amijoyo, seperti KH. Zainul arifin (wakil perdana mentri), KH.Masykur
(menteri Agama), begitu pula dengan susunan kabinet yang lain .Pada
tahun 1955 diadakan pemilu yang pertama diIndonesia, NU mampu meraih
suara terbanyak ketiga setelah PNI dan PKI. Hal ini tidak lepas dari
peran Kyai dan Pesantren sebagai kekuatan pokok NU.
Pada pereode
1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang melawan komunisme, hal ini
dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi, seperti : Banser
(Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (lembaga Seni Budaya Muslim),
Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober
1965 NU menuntut pembubaran PKI .
SOAL LATIHAN BAB VI
1. Sebagai salah satu sikap perjuangan NU melawan pemerintahan kolonial Belanda adalah ….
- Menolak berpartispasi dalam wajib militer
- Mendirikan partai politk untuk melawan Belanda
- Mengadakan perang gerilya
- Menuntut adanya pemilihan umum untuk memilih presiden
- Menolak kedatangan Jepang
2.
Pada bulan oktober 1943 dibentuk federasi antar organisasi-organisasi
Islam guna menggalang persatuan kaum muslimin Indonesia untuk melawan
Jepang, yaitu …
|
A. MASYUMI
|
D. SARIKAT ISLAM
|
|
B. MUHAMMADIYAH
|
E. MAJLIS ULAMA INDONESIA (MUI)
|
|
C. NAHDALTUL ‘ULAMA
|
|
3. Tokoh NU yang ikut dalam anggota BPUPK adalah ….
- KH. A. Wahab Hasbullah dan KH.A. Wahid Hasyim
- KH. Hasyim As’ary dan KH. Masykur
- KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim As’ary
- KH.A. Wahid Hasyim dan KH. Masykur
- KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Masykur
MATERI TAMBAHAN :
Mata Pelajaran : ASWAJA/Ke-NU-an
Kelas : I (X) SMA/SMK
1. KEPENGURUSAN NU
Kepengurusan NU terdiri dari dua bagian, yaitu
SYURIAH (ROIS ‘AMM) dan
TANFIDZIYAH.
Syuriyah
merupakan pemimpin tertinggi NU yang berfungsimembina, membimbing,
mengarahakan, dan mengawasi kegiatan Jam’iyah. Sedangkan Tanfidziyah
merupakan pelaksana sehari-hari.
Tugas-tugas Syuriyah :
- Setiap awal tahun hijriyah memberikan pengarahan dalam rapat pleno penyusunan program tahunan.
- Setiap akhir athun hijriyah menerima laporan kerja.
- Memberikan tegura, saran dan bimbingan kepada seluruh perangkat Jam’iyah
- Berhak embatalkan keputusan atau kebijakan organisasi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam
- Membina, mengembangkan dan menyiarkan kehidupan beragama khususnya bagi warga NU danumumnya umat Islam.
- Sekurang-kurangnya setahun sekali menerbitkan tulisan bersifat keagamaan
- Menyelenggarakan musyawarah ulama.
Tugas-tugas Tanfidziyah :
- Mengusahakan kemajuan Jam’iyah
- Menggerakkan dan mengelola pelaksanaan program Jam’iyah
- Melaporkan pelaksanaan tugas harian kepada Syuriyah
- Ketua
umum Tanfidziyah ditingkat pusat sedangkan ketua Tanfidziyah
ditingkat Wilayah dan Cabang, karena jabatabya menjadi pengurus
syuriyah.
- 2. PERMUSYAWARATAN DALAM NU
Lembaga permusyawaratan NU meliputi :
- RAPAT ANGGOTA
Lembaga
permusyawaratan ditingkat ranting (Desa), diadakan selambat-lambatnya
sekali dalam dua tahun. Kepengurusan ditingkat Ranting (Desa) disebut
PRNU
- KONFERENSI MAJLIS WAKIL CABANG
Lembaga
permusyawaratan ditingkat MWC (majlis wakil cabang), diadakan
selambat-lambatnya sekali dalam dua tahun. Kepengurusan ditingkat wakil
cabang (Kecamatan) disebut PACNU
- KONFERENSI CABANG
Lembaga
permusyawaratan ditingkat Cabang (Kabupaten), diadakan
selambat-lambatnya sekali dalam tiga tahun. Kepengurusan ditingkat
Cabang (Kabupaten) disebut PCNU
- KONFERENSI WILAYAH
Lembaga
permusyawaratan ditingkat Wilayah (Propinsi), diadakan
selambat-lambatnya sekali dalam empat tahun. Kepengurusan ditingkat
Wilayah (Propinsi) disebut PWNU
- MUKTAMAR
Lembaga
permusyawaratan tertinggi dalam NU, diadakan selambat-lambatnya sekali
dalam lima tahun, untuk memilih pengurus besar NU yang baru.
Kepengurusan ditingkat Pusat disebut PBNU
- 3. LAMBANG NU
Lambang
NU adalah gambar bola dunia yang diikat dengan tali dan dikelilingi
oleh sembilan bintang. Lambang tersebut adalah ide yang diberikan oleh
KH. RIDLWAN dari Surabaya, setelah beliau melakukan shalat Istikharah.
- 4. SEJARAH BERDIRINYA NU
Pada
tahun 1914 KH. Abdul Wahab Hasbullah pulang dari Mekkah setelah
bertahun-tahun belajar di sana. Beliau mempunyai cita-cita untuk
mempersatukan umat Islam dalm suatu perkumpulan / organisasi keagamaan.
Oleh
karena itu, guna memulai usahanya beliau mendirikan forum diskusi dan
kursus keagamaan yang dianmakan “TASHIRUL AFKAR”. Setelah itu bersama
denagn KH. Mas Manhur mendirikan organisasi “Jam’iyatul Nahdlotul Wathon
“. Organisasi in berkembang dengan pesat dan mendapat pengesahan dari
pemerintah Belanda pada tahun 1916. Selain itu berdiri pula organisasi
“Syubhanul Wathon (pemuda tanah air) pada tahun 1925.
Akhirnya
pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 KH. A. Wahab Hasbullah
membentuk suatu komite yang bernama Komite Hijaz yang beranggotakan para
alim ulama dari berbagai daerah. Dalam rapat komite tersebutmemutuska
beberapa hal, diantaranya “membentuk suatu organisasi atau Jam’iyah yang
bernama NAHDLATUL ULAMA’.” Nama Nahdlatul Ulama’ adalah usulan dri KHM.
Alwi Abdul Aziz.
Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :
- KH. Hsyim Asy’ari
- KH. Abdul Wahab Hasbullah
- KH.Bisyri Sansoeri
MATERI TAMBAHAN :
Mata Pelajaran : ASWAJA/Ke-NU-an
Kelas : I (X) SMA/SMK
PRILAKU WARGA NU
A. PRILAKU KEAGAMAAN
- Bidang Aqidah:
- Keseimbangan dalam penggunaan dalil Aqli dan Naqli.
- Manusia wajib beusaha sedangkan Allah yang menentukan hasilnya.
- Bidang Syariah
- Al Qur’an dan As Sunnah adalah sumber utama dalam menetapkan hukum syariah.
- Bila sudah ada dalil yang jelas (sharih) dan pasti (Qath’I) waji9b dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
- Mentolelir adanya perbedaan pendapatdalam masalah furu’iyah dan mu’amalah.
- Bidang Tasawuf
- Tasawuf adalah inti sari pengamalan dan penghayatan ajaran agama dalam rangka mancapai hakekat kebenaran.
- Tasawuf memberikan motivasiuntuk selalu dinamis.
- Inti ajaran Tasawuf adalah penyucian hati dan pembentukan sikap mental dalam menghambakan diri kepada Allah.
B. PRILAKU KEMASYARAKATAN
- Menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-norma ajaran Islam
- Mendahulukan kepentingan bersama ari pada kepentingan pribadi
- Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dalam berhikmad dan berjuang
- mengusahakan terwujudnya persaudaraan (Ukhuwah, persatuan (Ittihad), dan saling mengasihi ( Taharum)
C. PRILAKU EKONOMI
- As Shidqu ; kejujuran, kesungguhan dan keterbukaan
- Al Amanah wal Wafa Bil’ahd : dapt dipercaya, setia, tepat janji
- Al Adalah : adil, obyektif, proporsional dan taat asas.
D. PRILAKU POLITIK
- Demokratis
- Konstitusional
- Taat hukum
- mengembangkan musyawarah dan mufakat
- Humanisme relegius (Insaniyah-Diniyah) : peduli dengan nilai kemanusiaan yang agamais
- Terbuka baik dalam lintas agama, suku, ras, dan golongan.
E. PRILAKU BUDAYA
- Proprosional Normatif: masalah kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar
- Obyektif dan Selektif
- Elastis
F. PRILAKUSEBAGAI ANGGOTA ORGANISASI NU
Ada lima hal sikap prilaku warga NU dalam berorganisasi (Panca Gerakan Idiologi), yaitu :
- Ats Tsaqifah bi NU : Yakin dan percaya sepenuhnya terhadap NU
- Al Ma’arif wal Istiqon bi NU : bisa memberi bobot ilmiah terhadap NU dengan sungguh-sungguh
- Al Amal bi Ta’limi NU : Istiqomah dan konsisten dalm mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU
- Al Jihad fi Sabili NU ; selalu bersemangat dalam memperjuangkan NU
- Ash Sabr fi Sabili NU : sabar, tangguh, dan tabah dalam ber-NU.
MASUKNYA ISLAM DAN BERKEMBANGNYA KEI INDONESIA
- A. SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Ada tiga teori yang menyatakan masuknya Islam di Indonesia, yaitu :
- Teori Gujarat: Menutut
teori ini Islammasuk ke Indonesia pertama kali dari Gujarat
(India) pada abad ke 12-13 M. Hal ini dibuktikan dengan :
- Adanya
persamaan Batu Nisan di Cambay, Gujarat dangan Batu Nisan yang
ada di Pasai (Aceh) bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H / 27 September
1428 M dan Batu Nisan di Gresik (makam Maulana Malik Ibrahim)
bertanggal 822 H / 1419 M.
- Pada waktu itu para pedagang Arab yang singgah di Gujarat dalam rangka perdagangan timur tengah dengan Indonesia.
- Teori Arabia :Islam
masuk pertama kali masuk ke Indonesia langsung dari Arab pada abad
1 H atau abad 7-8 M, hal ini dibuktikan dengan :
- Adanya perkampungan arab (Pekojan) di pesisir utara pantai Sumatra (Aceh) pada tahun 684 M.
- Pada
tahun 632 M para saudagara arab melakukan ekspedisi perdagangan
ke Cina, namun sebelumnya singgah dulu di Aceh, sejak saat itulah
awal Islam masuk ke Indonesia.
- 3. Teori Persia : Islam di Indonesia berasal dari Persia, hal didasarkan atas persamaan budaya, yaitu :
- Peringatan 10 Muharram (Syuro) sebagai peringatan Syi’ah terhadap Syahidnya Husain.
- Ada persamaan ajaran Wahdatul Wujudi Hamzah Fansuri dan Syeikh siti Jenar dengan ajaran Sufi Pesia, Al Hallaj (wafat 922 M)
- Penggunaan istilah Persia dalam tanda bunyi harokat dalampengajian Al Qur’an
- Mayoritas bermadzhab Syafi’i.
Daerah lain yang pertama menerima islam adalah Jawa, hal ini didasarkan bukti-bukti sebagai berikut :
-
Pada tahun 674 M raja Ta-cheh (Muawiyah) mengirim utusan ke
kerajaan Kalingga untuk mengetahui keadaan kerajaan tersebut.
Berdasarkan utusan tersebut diketahui bahwa pada waktu itu sudah ada
penduduk yang beragama Islam.
- Di desa Leran, Manyar, Gresik ditemukan makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475-495 H (1082-1101 M)
Berdasarkan
pemaparan teori di atas dapat disimpulkan bahwa, Islam pertama kali
masuk ke Indonsia pada abad 1 H /7-8 M langsung dari Arab, namun dapat
berkembang dengan pesat pada abad ke 12-13 M, hal ini ditandai dengan
berdirinya kerajaan Samudra Pasai, dimana budaya Islam yang berkembang
adalah budaya Islam Persia.
- B. TOKOH - TOKOH PENYEBAR ISLAM DI INDONESIA
Pada
awalnya, tokoh-tokoh penyebar Islam di Indonesia adalah para pedagang.
Selain membawa dan menawarkan dagangan, mereka juga memperkenalkan dan
menyiarkan Islam kepada para penduduk.
- 1. Sumatra
- Syeikh Ismail,
Seorang ulama Makkah yang tinggal di Pasai. Beliau berhasil
mengislamkan Meurah Silu yang berganti nama Malikus Shalih (raja
Samudra Pasai pertama).
- Syeikh Abdullah Al Yamani, ulama Makkah, berhasil mengislamkan penguasa Kedah yang berganti nama Sultan Muzahffar Syah.
- Said Mahmud Al Hadramut, berhasil mengislamkan Raja Guru Marsakot dan rakyatnya yang berada di wilayah Barus (Sumatra Utara)
- Syeikh Burhanudin Ulakan, Ulama Minangkabau penganut tarekat Syatariyah
- Sayyid Usman Syahabudin, Ulama Riau yang menyiarkan Islam di kerajaan Siak.
- 2. Jawa
Penyebar Islam di Jawa dikenal dengan sebutan wali songo, yaitu :
|
a. Maulana Malik Ibrahim
|
f. Sunan Drajat (Syarifudin Hasyim)
|
|
b. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
|
g. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah
|
|
c. Sunan Giri (Raden Paku)
|
h. Sunan Kalijaga (Raden Mas Sahid)
|
|
d. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
|
i. Sunan Muria (Raden Prawoto)
|
|
e. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
|
|
Madura
baru terislamkan pada abad ke-15 M. adapun tokokh yang berjasa adalah :
sunan Padusan, (Raden Bendoro Diwiryopodho/Usman Haji) di daerah
Sumenep, Buyut Syeikh dan empu Bageno yang berdakwah di Sampang.
- 3. Daerah Lain
- Kalimantan : Tuan Tunggang dan Datuk ri Bandang
- Sulawesi
: Maulana Husain (ternate), Syeikh Mansur (Tidore), Katib Sulung,
Datuk ri Patimang, (Goa), Sayyid Zeun al Alydrus dan Syarif Ali
(Bugis).
- Nusa Tenggara : Sunan
Prapen, Habib Husain bin umar dan Habib Abdullah Abbas (Lombok), Syarif
Abdurrahman Al Gadri (Sumba), Syeikh Abdurrahman (Sumbawa dan
Timor), Pangeran Suryo Mataram (Kupang).
- C. FAHAM KEISLAMAN YANG BERKEMBANG DI INDONESIA
Faham
ke-Islaman yang berkembang di Indonesia sejak awal adalah faham
Ahlusunnah wal Jama’ah atau disebut juga Sunni yang menonjolkan
aspek-aspek sufistik dan bermadzhab Syafi’i.
Secara Harfiyah
Ahlusunnah wal Jama’ah berasal dari tiga kata :
- Ahlu ; keluarga, golongan atau pengikut
- Al Sunnah ; segala sesuatu yang diajarkan dan diamalkan Rasulullah SAW.
- Jama’ah ; para shahabat, apa yang disepakati para shahabat pada masa Khulafaur Rosidin.
Jadi,
Ahlusunnah wal Jama’ah ialah : Golongan yang mengikuti ajaran Islam
seperti yang diajarkan dan diamalkan Rosulullah dan para Shahabtnya.
Faham ini di pelopori oleh ; Imam As’ary dan Imam Maturidi.
- D. LATIHAN SOAL
- Jelaskan teori – teori masuknya Islam di Indonesia :
- Teori Arabia
- Teori Gujarat
- Tepri Persia
- Jelaskan faham Keislaman yang berkembang di Indonesia ?
- Apa yang kamu ketahui tentang Ahlusunnah Wal Jama’ah ?
- Sebutkan nama-nama Wali Songo ?
- Sebutkan tokoh-tokoh penyebar Islam di
- Sumatra
- Kalimantan
- Sulawesi
- Madura
- Nusa Tenggara
BAB II
STRATEGI DAN PENYEBARAN ISLAM
DI INDONESIA
- A. STRATEGI DAKWAH ISLAMIYAH
Islam
dalah agama yang membawa rahmat kepada seluruh alam semesta, bukan
hanya umat Islam semata. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT …
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
Dalam
mengemban dakwah Islamiyah, para Da’i atau Mubaligh tidak menempuh
jalan kekerasan, namun lebih memilih jalan damai. Metode dakwah dengan
jalan kekerasan hanya akan memimbulkan dampak negatif baik dari segi
Da’i maupun dari segi dakwah Islamiyah itu sendiri.
Karena tugas
dakwah adalah tugas setiap umat Islam, maka kegiaytan dakwah Islamiyah
dilaksanakan oleh semua pihak dengan berbagai kegiatannya masing-masing.
Para pedagang melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan perdagangan, para
seniman melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan seni dan budaya, dan para
penguasa (pemimpin) melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan pemerintahan.
- DAKWAH MELALUI KEGIATAN PEREKONOMIAN
Salah
satu proses Islamisasi di Indonesia melalui jalur perdagangan, hal ini
sesuai dengan kesibukan jalur perdagangan di selat Malaka pada abad 7-12
M. Para pedagang Arab mempunyai peranan yang penting dalam aktfitas
perdagangan Timur-Barat.Kegiatan perdagangan tersebut digunakan untuk
berdakwah dan berinteraksi dengan para penguasa setempat. Keuntungan
lainya ialah status social yang tinggi para pedagang, dengan menduduki
golongan elit tersebut dapat dimanfaatkan untuk berdakwah di pusat-pusat
pemerintahan.
- C. DAKWAH MELALUI KEGIATAN SENI BUDAYA
Selain
perdagangan, para mubaligh Islam juga menggunakan bentuk-bentuk seni
dan budaya sebagai media dakwah. Cara ini lebih mengutamakan isi
daripada bentuk lahiriyah dan mudah menarik simpati rakyat sehingga
mudah pula merek masuk Islam.
Bentuk-bentuk seni dan budaya yang
digunakan sangat beragam, ada yang memanfatkan yang sudah ada namun
ada yang memunculkan hal yang baru. Cabang seni yang popular digunakan
adalah Wayang, Gamelan, Gending, dan seni ukir.
Inisiatif
penggunaan Wayang adalah Sunan Kalijaga dengan memodifikasi bentuk dan
isi ceritanya. Di dalamnya diselingi gending-gending yang berupa
syair-syair yang berisi ajaran agama, pendidikan, dan falsafah
kehidupan. Budaya yang masih dipeertahankan sebagai media dakwah ialah
Kenduri dan Selametan, dimana niat dan isinya diubah dan diaganti
nilai-nilai keislaman.
- D. DAKWAH MELALUI PERKAWINAN
Beberapa factor yang mendorong terjadinya perkawinan pendatang muslim dan wanita setempat, antara lain :
- Karena Islam tidak membedakan status masyarakat.
- Kebutuhan
biologis, para pedagang biasanya tidak membawa istri dalam
muhibahnya. Para pribumi juga membiarkan perkawinan anak-anakya
dengan pedagang muslim untuk memperoleh status social dan ekonomi
yang kuat.
- Faktor politik, dengan
menikahi putri bangsawan maka akan meningkatkan status social dan
ekonomi sehingga memudahkan untuk berdakwah.
Melalui perkawinana ini nantinya akan membentuk inti masyarkat muslim yang menjadi titik tolak perkembangan Islam di Indonesia.
- E. DAKWAH MELALUI POLITIK DAN PEMERINTAHAN
Berdakwah
dilakukan pula di lingkungan kerajaan, sasaran utamanya adalah para
raja, keluarga raja, dan para pembesar kerajaan. Tujuan utamanya adalah
apabila sang raja telah masuk Islam, maka rakyatnya akan setia
mengikutinya.
Di antara para tokoh yang berhasil ialah
Syeikh Ismail yang berhasil mengislamkan Merah Silu (Malikus Shaleh raja Samudra Pertama). Di Jawa;
Raden Rahmatullah (Sunan
Ampel) berhasil berdakwah di lingkungan kerajaan majapahit. Walaupun
prabu brawijaya tidak mau masuk Islam, namun Sunan Ampel diberi
kebebasan untuk berdakwah sampai ia mendirikan Pesantren di Randukuning
Surabaya yang bernama Ampel Dento .
Salah satu kader Sunan Ampel adalah
Raden Patah,
beliau adalah putra Brawijaya V dari ibu Dharawati. Pada tahun 1462
Raden Patah diangkat menjadi adipati Bintoro (Demak), meskipun demikian
beliau tetap berdakwah dan mendidik para santri di pesantren
Glagahwangi. Demak berkembang dengan pesat, selain sebagai pusat
pemerintahan tetapi juga sebagai pusat dakwah Islamiyah dan berkumpulnya
para wali songo. Di Kota ini para wali mendirikan sebuah masjid agung
pada tahun 1468 M. Melalui musyawarah para Wali maka Raden Patah
diangkat menjadi Sultan di Demak, sejak saat itu berdirilah kerajaan
Islam di Jawa, yaitu kerajaan Demak.
Dengan berdirinya kerajaan
(pemerintahan) Islam, maka penyebaran Islam akan lebih kokoh, sehingga
Islam berkembang dengan pesat di Indonesia.
PONDOK PESANTREN
- A. LATAR BELAKANG BERDIRINYA PONDOK PESANTREN
pesantren
merupakan “Bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia, dimana bila di
tinjau dari segi sejarah dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah
Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran islam, sekaligus
mencetak kader-kader ulama.
Pondok adalah rumah atau tempat tinggal sederhana, disamping itu kata “Pondok” berasal dari bahasa Arab “
Funduq” yang berarti asrama. Sedangkan Istilah pesantren berasal dari kata
Shastri (India) yang berarti
Orang yang mengetahui kitab suci (Hindu). Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Dalam bahasa Jawa mnejadi
Santri dengan mendapat awalan
Pe dan akhiran
an menjadi
Pesantren :Sebuah pusat pendidikan Islam tradisional atau pondok untuk para siswa sebagai model sekolah agama di Jawa.
Di Aceh Pesantren disebut :
dayah, Rangkang, Meunasah. Pasundan disebut
Pondok, dan di Minangkabau disebut
Surau. Pimpinan pesantren tertinggi (Pengasuh) disebut
Kyai (jawa), Tengku (Aceh), Datuk atau Buya (Minangkabau), Abah/Ajengan (Sunda).
Tokoh
yang pertama mnedirikan pesantren adalah Maulana malik Ibrahim (w.
1419M), beliau menggunakan Masjid dan pesantren untuk pengajaran
ilmu-ilmu agama yang akhirnya melahirkan tokoh-tokoh wali songo. Pada
taraf permulaan bentuk pesantren sangat sederhana, kegiatan pendidikan
dilakukan di masjid dengan beberapa santri. Ketika Raden Rahmad (Sunan
Ampel) mendirikan pesantren (Ampel Dento) hanya memiliki tiga orang
santri. Para santri yang telah selesai belajarnya di Pesantren Ampel
Dento kemudian mendirikan pesantren baru. Salah satunya adalah Raden
Paku (Sunan Giri) yang mendirikan Pesantren d desa Sidomukti, Gresik
yang bernama
Giri Kedaton.
Pesantren Giri Kedaton
memiliki santri dari berbagai daerah, seperti jawa, Madura, Lombok,
Sumbawa, Makasar, Ternate, dan lain-lain. Setiap santri kemudian
mendirikan pesantren di daerahnya masing-maisng dengan demikian
pesantren dapat berkembang dengan pesat.
Berdasarkan sejarah berdirinya, maka tujuan berdirinya pesantren ialah :
- Sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pembentuk kader-kader ulama
- Sebagai benteng pertahanan dan pengawal bagi keberlagsungan dakwah Islamiyah di Indonesia.
- B. FUNGSI DAN PERAN PESANTREN DALAM PENYEBARAN ISLAM
Fungsi
utama pondok pesantren ialah sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan
pusat dakwah islamiyah. Pada masa penjajahan Pesantren merupakan
pendidikan menanamkan sikap patriotisme dan basis perjuangan untuk
melawan penjajah.
Tradisi pesantren memiliki sejarah panjang.
Oleh karena itu, situasi dan peranan Pesantren dewasa ini harus dilihat
dalam hubungan perkembangan Islam jangka panjang, baik di Indonesia
maupun di negara-negara Islam pada umumnya.
Sesuai dengan
perkembangan jaman maka pondok pesantren saat ini dilengkapi dengan
ilmu-ilmu umum dan berbagai ketrampilan. Hal ini untuk membekali para
santri agar tidak gagap dengan perkembangan IPTEK dan dapat berperan
aktif dalam masyarakat luas.
Pendidikan di Pesantren bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan
(transfer of knowliege) tetapi juga transfer nilai (
transfer of value),
sehingga akan mampu mencetak santri yang menguasai ilmu-ilmu agama,
mengamalkan ilmunya dengan ikhlas, dan menjadi orang yang sholeh apapun
profesinya.
- C. METODE KAJIAN YANG DILAKUKAN DI PESANTREN
Proses
pendidikanya berlangsung 24 jam, dimana terjadi hubungan antara Kyai
dan santri, santri sesame santri yang berada dalam satu kompleks
(masyarakat belajar).
Setidaknya ada tiga jenis ilmu keislaman
yang secara istiqomah diajarkan di pesantren, yaitu : Aqidah (Kalam),
Fiqh (Syari’ah), dan Akhlaq (tasawuf). Ketiga ilmu tersebut digali dan
dipelajari dari sumber kitab-kitab salaf (kitab kuning) yang disusun
oleh para ulama Ahlusunnah wal Jama’ah.
Sistem pembelajaran di Pesantren meliputi :
- Sorogan,
Kyai/Ustadz mengajar para santri satu persatu, tanpa membedakan
umur dan jenjang pendidikan.(kelas). Contoh : sorogan Qur’an,
sorogan Kitab dan lain-lain.
- 2. Bandungan, Kyai/Ustadz
mengajar para santri secara bersama-sama tanpa membedakan umur dan
kelas. System ini biasanya dilakukan pada waktu tertentu dan pada
materi tertentu, seperti pengajian akhlaq, Hadits, Pengajian
Romadlon, dan lain lain.
- 3. Madrasy / Kalsikal,
system pembelajaran dengan cara klasikal, para santri dikelompokan
sesuai umur dan tingkat kemampuannya. Dalam pendidikan Pesantren
dikenal jenjang pendidikan yaitu :Awaliyyah, Wustho, Ulya, Ma’had ‘Ali.
Berdasarkan system pembelajarannya, maka pesantren dapat dikelompokkan :
- Pesantren Al Qur’an, Pesantren yang secara khusus mempelajari Al Qur’an dan mencetak para Hafidz fdan Hafidzah.
- Pesantren Kitab, Pesantren yang secara khusus mempelajari ilmu-ilmu fiqh
- Pesantren Alat, pesantren yang secara khusus mempelajari ilmu-ilmu Bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu, Shorof, dan lain-lain.
Sedangkan tipe secara umum pesantren adalah :
- Pesanten Salafiyyah,
Pesantren yang tidak menyediakan pendidikan formal, sehingga para
santri hanya khusus belajar di pesantren. Pesantren Salafiyah
secara khusus mempelajari satu bidang keilmuan, seperti fiqh,
Hadits, atuapun ilmu alat.
- Pesantren Modern,
Pesantren yang menyediakan pendidikan formal, sehingga para santri
selain belajar di pesantren juga menempuh pendidikan formal.
- Pesantren Perpaduan , Pesantren yang menyediakan pendidikan formal, tapi dalam system pembelajaranya juga mengikuti system Salafiyyah.
D. HAL-HAL YANG MENJIWAI DI PESANTREN
Sebagai
lembaga Tafaqquh fiddin (memperdalam agama) pondok pesantren mempunyai
jiwa yang membedakan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainya. Jiwa
pondok pesantren tersebut dinamakan
“Panca Jiwa Pesantren”, yaitu :
- Jiwa keikhlasan
, jiwa ini terbentuk oleh suatu keyakinan bahwa semua perbuatan
(baik atau buruk) pasti akan di balas oleh Allah SWT, jadi beramal
tanpa pamrih tanpa mengahrapkan keuntungan duniawi.
- Jiwa Kesederhanaan,
sederhana bukan berarti pasif tetapi mengandung unsur kekuatan dan
kaetabahan hati serta penguasaan diri dalam mengahadapi dalam
mengahdapi segala kesulitan.
- Jiwa Persaudaraan
yang Demokratis, segala perbedaan dipesantren tidak menjadi
penghalang dalam jalinan ukhuwah (persaudaraan) dan Ta’awun (saling
menolong).
- Jiwa kemandirian, pesantren harus mampu mandiri dengan kekuatannnya sendiri.
- Jiwa Bebas,
bebas dalam membentuk jalan hidup dan menetukan masa depan dengan
jiwa besar dan sikap optimis mengahadapi berbagai problematika
hidup berdaqsarkan nilai-nilai ajaran Islam. Kebebasan jiwa pondok
pesantren juga berarti tidak terpengaruh dan didikte oleh dunia
luar.
BAB IV

17:46

.
Pokok Bahasan :
1. Sejarah kelahiran NU dan perkembangannya
2. Sejarah berdirinya NU lokal
3. Bentuk dan sistem organisasi NU ( tujuan, struktur organisasi dan perangkat organisasi )
4. Pengertian dan kedudukan ulama dalam NU
5. Faktor – faktor dominan NU yaitu faktor kepemimpinan dan keanggotaan NU serta faktor keagamaan NU
Tujuan :
1. Memahami sejarah dan perkembangan baik nasional maupun lokal
2. Memahami bentuk dan sistem organisasi NU
3. Memahami kedudukan Ulama dalam NU
4. Memahamai faktor dominan NU baik faktor kepemimpinan, keanggotaan serta faktor keagamaan
Sejarah NU
Sesungguhnya
pendorong berdirinya NU oleh para ulama dan kaum pesantren adalah
semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya kerjasama yang lebih
teratur antara mereka didalam memperjuangkan izzul islam wal mukminin
dalam bingkai ahlusunah waljamaah.
Dorongan kerjasama ini dipicu oleh
peristiwa “Konperensi Khilafah” yang diadakan oleh permeritah Saudi
Arabia, sebab setelah selesai perang dunia ke- 2 dan Kesultanan Turki
diakui sebagai khilafah islamiyah jatuh karena revolusi yang dipimpina
oleh Kamal Atatruk rupanya Pemerintah Saudi Arabia berambisi untuk
memangku “Khilafah Turki” tersebut. Maka dirancanglah Konperensi
International Khilafah Islamiyah di Mekkah dan diundanglah perwakilan –
perwakilan Negara-negara islam, termasuk Indonesia. Di Indinesia sudah
terbentuk sebuah Komite (panitia) untuk mengirim utusan kesana, termasuk
KH. Wahab Hasbullah sebagai perwakilan Ulama serta beberapa tokoh-tokoh
lain yang mewakili organisasi besar Islam Indonesia.
Dengan alasan
yang kurang maton susunan Anggota Komite berubah, KH. Wahab Hasbullah
tidak jadi masuk menjadi anggota delegasi, karena tidak “mewakili
organisasi” apapun, secara tidak langsung ini sebuah penghinaan terhadap
ulama pesantren yang sesungguhnya besar pengaruhnya dan posisinya
terhadap umat Islam di Indonesia.
Karena kemungkinan bergabung dengan
delegasi umat Islam Indonesia sudah tertutup, maka para Ulama berusaha
dengan kekuatan sendiri untuk mengirim delegasi Ulama Ahlu sunnah wal
jamaah Indonesia menghadap Pemerintah Saudi Arabia. Untuk keperluan itu
maka dibentuklah “Komite Hijaz” sebuah panitia untuk memobilisasi
kekuatan dan dukungan umat bagi terlaksananya kerja besar ini.
Segala
kebutuhan dapat disapkan meskipun dalam keadaan pas-pasan. Delegasinya
hanya KH. Wahab Hasbullah sendiri, seorang penasehat dari Mesir yaitu
Syekh Ghonaim (untuk memperbesar wibawa delegasi)sekretarisnya
diambilkan dari mahsantri Indonesia yang ada di Arab Saudi, yaitu KH.
Dachlan dari Nganjuk (untuk menhemat dana) ketika delegasi akan
berangkat, berbisik pikiran untuk “mempermanenkan” KOmite Hijaz itu
untuk menjadi organisasi yang tetap, yaitu Nahdlatul Ulama.
Jamiyah
Nahdlatul Ulama didirikan di surabya pada tanggal 6 rojab 1344 H
bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, dengan pendirinya anatar lain : KH.
Hasyim As’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Samsuri, KH. Ridwan
Abdullah, KH. Mas Alwi Abdul Azizi dan lain – lain.
Tujuan, Struktur dan Perangkat Nahdlatul Ulama
Tujuan
Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran islam menurut Faham Ahlu sunah
wal jamaah dan menganut salah satu madzhabempat, ditengah-tengah
kehidupan masyarakat didalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia
(AD NU Bab IV pasal 5).
Struktur organisasi Nahdlatul Ulama adalah :
Pengurus Besar di Jakarta
§ Pengurus Wilayah Di Provinsi
§ Pengurus Cabang di Kota/Kabupaten
§ Pengurus Majlis Wakil Cabang di Kecamatan
§ Pengurus Ranting di Desa atau Kabupaten
§Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama :
•
Lembaga adalah perangkat departemenisasi organisasi Nahdlatul Ulama
yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama, khususnya
yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
• Lajnah adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan program Nahdlatul Ulama menangani penanganan khusus
•
Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang befungsi
membantu malaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama khususnya yang berkaitan
dengan kelompok masyarakat tertentu yang beranggotakan perseorangan.
Posisi dan Fungsi Ulama dalam NU
Sebagaimana
pada alinia 2 butir mukoddimah Khittoh NU di sebutkan : Nahdlatul Ulama
sebagai jamiyah Diniyah adalah wadah bagi ulama dan
pengiakut-pengikutnya yang didirikan pada 16 rojab 1344 H/31 Januari
1926 M, dengan tujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan
mengamalkan ajaran islam berhaluan ahlusunnah wal jamaah dan menganut
salahsatu madzhab empat masing-masing : Imam Abu Hanifah An Nu’man, Imam
Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, dan Imam Ahmad Bin
Hmabal, serta untuk mempersatukan langkahpara ulama dan pengikutnya
dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk kemaslakhatan
masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia.
Dasar – dasar faham keagamaan NU
• Sumber – sumber ajaran Islam diambil dari :
1. Al – Qur’an
2. Al – Hadist
3. Al Ijma’
4. Al Qiyas
• Menggunakan system bermadzhab :
a. Aqidah : Aswajah sebagaimana dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi
b. Fiqh : salah madzhab empat : Hanafi, maliki, Syafi’I dan Hambali
c. Tashawwuf : Imam Junaid Al Bagdadi, Imam Ghozali dan lain – lain