MATERI PENDIDIKAN KE-NU-AN
BAB I
SEJARAH ORGANISASI NAHDALATUL ULAMAA. MOTIFASI KELAHIRAN NU
Pada tahun 1914 KH. Abdul Wahab Hasbullah pulang dari Mekkah setelah bertahun-tahun belajar di sana. Beliau terkenal ulama yang sangat dinamis dan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan umat Islam dalam suatu perkumpulan / organisasi keagamaan. Untuk mewujudkan hal itu, beliau menggandeng ulama yang sangat Kharismatik, yaitu KH. Hasyim As’ary Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang (JATIM).
Kedua Ulama ini mencoba untuk mengorganisir dan memberi wadah serta mempersatukan umat Islam (tradisionalis) di Indonesia . Untuk mewujudkan hal tersebut ditempuh langkah-langkah :
- Pada tahun 1916 Kyai Wahab mendirikan Madrasah “Jam’iyatul Nahdlotul Wathon “ di Surabaya. Madrasah ini berkembang dengan pesat dan membuka cabang di Semarang, Malang, Sidoarjo, Gresik, Lawang, Pasuruan, dan lain-lain.
- Pada tahun 1919 berdiri TASWIRUL AFKAR”, sebuah madrasah dan forum diskusi keagamaan yang tujuan utamanya memberi tempat untuk mengaji dan belajar serta untuk membela kepentingan Islam.
- 3. Pada tahun 1924 berdiri organisasi “Syubhanul Wathon (pemuda tanah air), organisasi ini mempunyai kegiatan membahas masalah agama, dakwah, peningkatan pengetahuan bagi anggotanya, dan lain-lain.
- Meresmikan dan mengukuhkan Komite Hijaz dengan masa kerja samapai delegasi yang akan dikirim menemui Raja Ibnu Saud dan mengirim delegasi ke Kongres Islam di Makkah. Adapun yang dikirim ialah KH. Wahab Hasbullah dan Syeikh Ahamad Ghunaim al Mishri.
- Membentuk sebuah Jam’iyyah (organisasi) yang bernama NAHDLATUL ULAMA’. Denggan tujuan untuk membina terwujudnya masyarkat Islam berdasarkan aqidah atau faham Ahlusunnah wal Jama’ah (ASWAJA).
B. TOKOH-TOKOH PENDIRI NU
Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :
- KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) Jombang
- KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Jombang
- KH.Bisyri Sansoeri (1886 – 1962 ) Jombang
- KH. Ridwan Abdullah (1884 -1962) Semarang
- KH. Asnawi (1861-1959) Kudus
- KH. Ma’sum (1870-1972) Lasem
- KH. Nawawi, Pasuruan
- KH. Nahrowi, Malang
- KH. Alwi Abdul Aziz, Surabaya
Nahdlatul Ulama adalah organisasi social keagamaan (Jam’iyyah Diniyah Islamiyah) yang berhaluan (faham) Ahulusunnah wal Jamaah. Secara harfiah terdiri dari kata Nahdlah : Bangkit/Kebangkitan dan ‘Ulama : Orang-orang yang ahli agama, Jadi Nahdaltul Ulama berarti kebangkitan para alim-ulama. Nama NU disusulakan KH. Alwi Abdul Aziz dari Surabaya.
Lambang NU berupa :
- Gambar bola Dunia atau Bumi yang mengingatkan manusia itu berasal dari tanah dan kembali ke tanah.
- Dilingkari Tali Tersimpul yang melambangkan ukhuwah atau persatuan, dan ikatanya melambangkan hubungan dengan Allah SWT.
- Dikelilingi sembilan Bintang,
- Empat bintang di bawah garis katulistiwa, melambangkan empat madzhab.
- Disamping itu jumlah seluruh bintang sembalian juga melambangkan wali songo.
Jadi Nabi SAW, Shahabat, Imam Madzhab, dan wali songo yang akan memberikan sinar dan petunjuk jalan yang benar.
- Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia.
SOAL LATIHAN BAB IV
- I. Pilihan Ganda
1. Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, telah berdiri beberapa organisasi yang menjadi embrio organisasi NU, Yaitu …..
A. Subbanul wathon, Sarikat Islam, MuhammadiyahB. Nahdaltul Waton, Taswirul Afkar, Sarikat Dagang Islam
C. Nahdaltul Waton, Taswirul Afkar, Subbanul wathon
D. Sarikat Islam, Subbanul wathon, Nahdlatul Wathon
E. Budi Utomo, Muhammadiyah, Sarikat Dagang Islam
2. Pada tanggal 31 Januari 1926 Komite Hijaz bersidang dengan keputusan …
A. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi
B. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi Subbanul Wathon
C. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi Nahdlatul Wathon
D. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasiNahdlatul Ulama
E. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasiTaswirul Afkar
3. Nama “Nahdlatul Ulama” atas usulan …
|
A. KH. Hasyim As’ary
|
D. KH. Alwi Abdul Aziz
|
|
B. KH. Wahab Hasbullah
|
E. KH. Ridlwan
|
|
C. KH. Asnawi Kudus
| |
|
A. Subbanul wathon
|
D. LP Ma’arif
|
|
B. Taswirul Afkar
|
E. Sarikat Islam
|
|
C. Nahdlatul Wathon
| |
|
A. Wahabiyah
|
D. Ahlusunnah wal Jamaah
|
|
B. As’ariyah
|
E. Maturidiyah
|
|
C. Mu’tazilah
| |
|
A. lima bintang di atas garis katulistiwa
|
D. tali yang tersimpul
|
|
B. lima bintang di bawah garis katulistiwa
|
E. tali yang mengitari bola dunia
|
|
C. bola dunia
| |
|
A. lima bintang di atas garis katulistiwa
|
D. tali yang tersimpul
|
|
B. lima bintang di bawah garis katulistiwa
|
E. tali yang mengitari bola dunia
|
|
C. bola dunia
| |
|
8. 1. KH. Abdurrahman Wahid
2. KH. Bisri Sansuri3. KH. Hasyim Muzadi |
4. KH. Asnawi Kudus
5. KH. Alwi Abdul Aziz |
|
A. 2,3,4
|
D. 3,4,5
|
|
B. 1,2,5
|
E. 1,2,3
|
|
C. 2,4,5
| |
|
A. KH. Alwi Abdul Aziz
|
D. KH. Ridlwan
|
|
B. KH. Adnawi Kudus
|
E. KH. Bisri Sansuri
|
|
C. KH. Wahab Hasbullah
| |
|
A. 1914
|
D. 1938
|
|
B. 1924
|
E. 1948
|
|
C. 1926
| |
SISTEM KEORGANISASIAN NU
A. KEPENGURUSAN NU
Kepengurusan NU terdiri dari tiga bagian, yaitu ;- Mutasyar; Penasehat yang secara kolektif memberikan nasehat kepada pengurus NU menurut tingkatannya dalam rangka menjaga kemurnian, khothah nahdliyah, agama, dan menyelesaikan persengketaan.
- Syuriyah; merupakan pemimpin tertinggi NU yang berfungsi pemembina, pengendali, pengawas, dan penetu kebijakan dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi. Tanfidziyah.
- Tanfidziyah; pelaksana harian organisasi NU yang bertugas :
- Melaksanakan program NU
- Memahami dan mengawasi kegiatan semua perangkat organisasi dibawahnya.
- Menyampaikan laporan secara pereodik kepada syuriyah tentang pelaksanaan tugas.
B. TINGKAT KEPENGURUSAN
1. Pengurus Besar NU (PBNU)
Pengurus besar adalah kepengurusan NU ditingkat pusat dan berkedudukan di Ibu kota negara Indonesia. Pengurus besar merupakan penganggung jawab kebijakan dalam pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusan muktamar.
2. Pengurus Wilayah NU (PWNU)
Pengurus Wilayah adalah kepengurusan ditingkat Porpinsi yang berkedudukan di Ibu kota Propinsi.
3. Pengurus Cabang NU (PCNU)
Pengurus Cabang adalah kepengurusan U ditingkat kabupaten/kota yang berkedudukan ditingkat kabupaten
4. Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWCNU)
Pengurus MWC adalah kepengurusan ditingkat kecamatan atau daerah yang disamakan
5. Pengurus Ranting NU (PRNU)
Pengurus Ranting ialah kepengurusan NU ditingkat Desa/Kleurahan atau daerah yang disamakan.
C. SISTEM PERMUSYAWARATAN
Lembaga permusyawaratan NU meliputi :
- 1. Muktamar
- 2. Musyawarah Nasional alim Ulama
- 3. Konfensi Besar
- 4. Konfrensi Wilayah
- 5. Konfrensi Cabang
- 6. Konfrensi Majlis Wakil Cabang
- 7. Rapat anggota
D. PERANGKAT ORGANISASI NU
1. Lembaga
Perangkat organisasi yang berfungsi pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan satu bidang tertentu.
Adapun lembaga-lembaga NU meliputi :
- Lembaga Dakwah NU (LDNU)
- Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (LP Ma’arif NU)
- Lembaga Sosial Mabarut NU (LSMNU)
- Lembaga Perekonomian NU (LPNU)
- Lembaga Pembangunan dan Pengembangan Pertanian (LP2NU)
- Rabithah Ma’ahid al Islamiah (RMI); Pengembangan bidang Pondok Pesantren
- Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU)
- Ha’iyah Ta’miril Masjid Indonesia (HTMI)
- Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM)
- Lembaga Seni Budaya NU (LSBNU)
- Lembaga Pengembangan Tenaga Kerja NU (LPTKNU)
- Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU (LPBHNU)
- Lembaga Pencak Silat (LPS)
- Jam’yyah Qura wal Huffadz (JQH): Bidang Pengembanga Tilawah, Metode pengajaran dan penghafalan Al-qur’an.
2. Lajnah
Perangkat Organisasi NU untuk melaksanakan program yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah NU meliputi:
- Lajnah Falakiyah: bertugas menangani Hisab dan Ru’yah
- Lajnah Ta’lif wa Nasyr: bertugas menangani penerjemah, penyusunan, dan penyebaran kitab-kitab.
- Lajnah Auqaf: bertugas menghimpun, mengurus, dan mengelola tanah serta bangunan yang diwaqafkan.
- Lajnah Zakat Infaq dan Shodaqoh: bertugas menghimpun, mengelola, dan mentsharafkan zakat, infaq dan sedekah.
- Lajnah Bahtul Masail Diniyah: bertugas menghimpun, membahas, dan memecahkan masalah-masalah yang maudlu’iyah dan waq’iyah yang segera mendapatkan kepastian hukum.
- Badan Otonam
Badan Otonom dalam NU adalah:
- Jam’iyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah, Badan Otonom yang menghimpun pengikut thariqah di lingkungan NU
- Muslimat NU: Badan Otonom yang menghimpun anggota perempusn NU
- Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor): Badan Otonom yang menghimpun pemuda NU.
- Ikatan putra NU (IPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri laki-laki.
- Ikatan Putra-putri NU (IPPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri perempuan.
- Ikatan Sarjana NU (ISNU): Badan Otonom yang menghimpun para sarjana dan kaum intelek NU.
E. KEANGGOTAAN NU
Keanggotaan NU dapat diklasifikasi menjadi :
- 1. Anggota Biasa
- 2. Anggota luar Biasa
- 3. Anggota Kehormatan
SOAL LATIHAN BAB V
1. Kepengurusan NU yang bertugas memberi petunjuk, pembinaaan dan bimbingan dalam memahami dan mengamalkan serta mengembangakan paham Ahlusunnah wal Jamaah ialah …
|
A. Mutasyar
|
D. Lajnah
|
|
B. Tanfidziyah
|
E. Syuriyah
|
|
C. Badan Otonom
| |
A. Melaksanakan program NU
B. Memberi nasehat kepada pengurus NU menurut tingkatanya
C. Mengendalikan, mengawasi dan memberi koreksi terhadap perangkat NU
D. Membimbing, mengarahkan, dan mengawasi Badan Otonom, Lembaga, dan Lajnah
E. Membatalkan keputusan apabila dinilai bertentangan dengan ajaran Islam
3. Perangkat organisasi NU yang bertugas untuk melaksanakan program NU yang memerlukan penanganan khusus adalah …
|
A. Lembaga
|
D. Badan Otonom
|
|
B. Departemen
|
E. Badan Usaha
|
|
C. Lajnah
| |
|
A. LP2NU
|
D. LAKPESDAM
|
|
B. RMI
|
E. LPBHNU
|
|
C. LSBNU
| |
A. penyiaran agama Islam ala Ahlusunnah wal Jamaah
B. pengembangan tilawah, metode pengajaran dan penghafalan Al Qur’an
C. penyuluhan dan pemebrian bantuan hukum
D. pengembangan seni dan budaya
E. pembangunan dan pengembaga pertanian
6.
7. Pondok pesantren merupakan tulang punggung dalam pembanguna dan pengembangan NU, untuk itu dibentuk suatu lembaga yang bertugas menangani pengembangan Pondok Pesantren, yaitu …
|
A. LKKNU
|
D. LP Ma’arif
|
|
B. LPTKNU
|
E. LDNU
|
|
C. RMI
| |
|
A. Tarbiyyah
|
D. Thoriqoh
|
|
B. Al ‘Ulum
|
E. Lembaga Pendidikan
|
|
C. Ma’arif
| |
10. Lajnah Falakiyah bertugas mengurus masalah Hisab dan Ru’yah, yaitu masalah …
|
A. Perhitungan nishab Zakat
|
D. perhitungan kalender Hijriyah
|
|
B. Penentuan orang yang berhak menerima ZIS
|
E. perhitungan kalender Masehi
|
|
C. penentuan orang yang menerima Waqaf
| |
|
A. GP ANSOR, FATAYAT
|
D. IPPNU, GP ANSOR
|
|
B. IPNU, GP ANSOR
|
E. IPNU, IPPNU
|
|
C. IPNU, FATAYAT
| |
|
A. para perempuan muda
|
D. para perempuan-perempuan NU
|
|
B. para perempuan muda yang masih pelajar
|
E. kaum intelekdan sarjana NU
|
|
C. para perempuan muda dan mahasiswi
| |
|
A. Pengurus Cabang
|
D. Pengurus Kecamatan
|
|
B. Pengurus Wilayah
|
E. Pengurus Desa
|
|
C. Pengurus Besar
| |
|
A. Pengurus Desa
|
D. Pengurus Cabang
|
|
B. Pengurus Wilayah
|
E. Pengurus Besar
|
|
C. Pengurus Kecamatan
| |
|
A. Rapat anggota
|
D. Muktamar
|
|
B. Konfrensi MWC
|
E. konfrensi Wilayah
|
|
C. Konfrensi Cabang
| |
|
A. Muktamar
|
D. Konfrensi MWC
|
|
B. Konfrensi Wilayah
|
E. Rapat anggota
|
|
C. Konfrensi Cabang
| |
A. Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan NU
B. Setiap orang yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan NU
C. Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan Pancasila
D. Setiap orang yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas dan tujuan Pancasila
E. Setiap orang yang beragama Islam, baligh dan sudah berjasa kepada NU
BAB VI
PERANAN NU DALAM DINAMIKA
SEJARAH INDONESIA
- 1. NU PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA
Perjuangan NU diarahkan pada dua sasaran, yaitu : Pertama, NU mengarahkan perjuanganya pada upaya memperkuat aqidah dan amal ibadah ala ASWAJA disertai pengembangan persepsi keagamaan, terutama dalam masalah social, pendidikan, dan ekonomi. Kedua; Perjuangan NU diarahkan kepada kolonialisme Belanda dengan pola perjuangan yang bersifat cultural untuk mencapai kemerdekaan.
Selain itu, sebagai organisasi social keagamaan NU bersikap tegas terhadap kebijakan colonial Balanda yang merugikan agama dan umat Islam. Misalnya : NU menolak berpartisipasi dalam Milisia (wajib militer), menetang undang-undang perkawinan, masuk dalam lembaga semu Volksraad, dan lain-lain.
- 2. NU PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG
Mengantisipasi prilaku Jepang, NU melakukan serangkaian pembembenahan. Untuk urusan ke dalam diserahkan kepada KH. Nahrowi Thohir sedangkan urusan keluar dipercayakan kepada KH. Wahid Hasyim dan KH. Wahab Hasbullah. Program perjuangan diarahkan untuk memenuhi tiga sasaran utama, yaitu :
- Menyelamatkan aqidah Islam dari faham Sintoisme, terutama ajaran Shikerei yang dipaksakan oleh Jepang.
- Menanggulangi krisis ekonomi sebagai akibat perang Asia Timur
- Bekerjasama dengan seluruh komponen Pergerakan Nasional untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan.
- 3. NU PADA MASA KEMERDEKAAN
Materi pokok dalam diskusi-diskusi BPUPKI ialah tentang dasar dan bentuk Negara. Begitu rumitnya pembahasan tentang dasar dan falsafah Negara makadi sepakati dibentuk “Panitia Sembilan”. Dalam panitia kecil ini NU diwakili oleh KH. Wahid Hasyim, hasilnya disepakati pada dasar Negara mengenai “Ketuhanan” ditambah dengan kalimat “Dengan kewajiaban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluknya”. Keputusan ini dikenal dengan “Piagam Jakarta”.
Sehari setelah Indonesia merdeka, Moh Hatta memanggil empat tokoh muslim untuk menanggapi usulan keberatan masyarkat non muslim tentang dimuatnya Piagam Jakarta dalam pembukaan UUD 1945. Demi menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa, KH. Wahid Hasyim mengusulkan agar Piagam Jakarta diganti dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”. Kata “Esa” berarti keesaan Tuhan (Tauhid) yang ada hanya dalam agama Islam, dan usul ini diterima.
Pada 16 September 1945 tentara Belanda (NICA) tiba kembali di Indonesia dengan tujuan ingin kembali menguasai Indonesia. Melihat ancaman tersebut, NU segera mengundang para utusan dan pengurus seluruh Jawa dan madura dalam sidang Pleno Pengurus Besar pada 22 Oktober 1945. Pada rapat tersebut dikeluarkan “Resulusi Jihad” yang secara garis besar berisi :
- Kemerdekaqan Indonesia wajib dipertahankan
- Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah wajib dibela dan diselamatkan.
- Musuh RI , terutama Belanda pasti akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
- Umat Islam terutama warga NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawanya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
- Kewajiban Jihad tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim (Hukumnya fardlu ‘Ain).
- 4. NU DALAM MENGISI KEMERDEKAAN
Pada pereode 1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang melawan komunisme, hal ini dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi, seperti : Banser (Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (lembaga Seni Budaya Muslim), Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober 1965 NU menuntut pembubaran PKI .
SOAL LATIHAN BAB VI
1. Sebagai salah satu sikap perjuangan NU melawan pemerintahan kolonial Belanda adalah ….
- Menolak berpartispasi dalam wajib militer
- Mendirikan partai politk untuk melawan Belanda
- Mengadakan perang gerilya
- Menuntut adanya pemilihan umum untuk memilih presiden
- Menolak kedatangan Jepang
|
A. MASYUMI
|
D. SARIKAT ISLAM
|
|
B. MUHAMMADIYAH
|
E. MAJLIS ULAMA INDONESIA (MUI)
|
|
C. NAHDALTUL ‘ULAMA
| |
- KH. A. Wahab Hasbullah dan KH.A. Wahid Hasyim
- KH. Hasyim As’ary dan KH. Masykur
- KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim As’ary
- KH.A. Wahid Hasyim dan KH. Masykur
- KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Masykur
MATERI TAMBAHAN :
Mata Pelajaran : ASWAJA/Ke-NU-anKelas : I (X) SMA/SMK
1. KEPENGURUSAN NU
Kepengurusan NU terdiri dari dua bagian, yaitu SYURIAH (ROIS ‘AMM) dan TANFIDZIYAH.Syuriyah merupakan pemimpin tertinggi NU yang berfungsimembina, membimbing, mengarahakan, dan mengawasi kegiatan Jam’iyah. Sedangkan Tanfidziyah merupakan pelaksana sehari-hari.
Tugas-tugas Syuriyah :
- Setiap awal tahun hijriyah memberikan pengarahan dalam rapat pleno penyusunan program tahunan.
- Setiap akhir athun hijriyah menerima laporan kerja.
- Memberikan tegura, saran dan bimbingan kepada seluruh perangkat Jam’iyah
- Berhak embatalkan keputusan atau kebijakan organisasi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam
- Membina, mengembangkan dan menyiarkan kehidupan beragama khususnya bagi warga NU danumumnya umat Islam.
- Sekurang-kurangnya setahun sekali menerbitkan tulisan bersifat keagamaan
- Menyelenggarakan musyawarah ulama.
- Mengusahakan kemajuan Jam’iyah
- Menggerakkan dan mengelola pelaksanaan program Jam’iyah
- Melaporkan pelaksanaan tugas harian kepada Syuriyah
- Ketua umum Tanfidziyah ditingkat pusat sedangkan ketua Tanfidziyah ditingkat Wilayah dan Cabang, karena jabatabya menjadi pengurus syuriyah.
- 2. PERMUSYAWARATAN DALAM NU
- RAPAT ANGGOTA
- KONFERENSI MAJLIS WAKIL CABANG
- KONFERENSI CABANG
- KONFERENSI WILAYAH
- MUKTAMAR
- 3. LAMBANG NU
- 4. SEJARAH BERDIRINYA NU
Oleh karena itu, guna memulai usahanya beliau mendirikan forum diskusi dan kursus keagamaan yang dianmakan “TASHIRUL AFKAR”. Setelah itu bersama denagn KH. Mas Manhur mendirikan organisasi “Jam’iyatul Nahdlotul Wathon “. Organisasi in berkembang dengan pesat dan mendapat pengesahan dari pemerintah Belanda pada tahun 1916. Selain itu berdiri pula organisasi “Syubhanul Wathon (pemuda tanah air) pada tahun 1925.
Akhirnya pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 KH. A. Wahab Hasbullah membentuk suatu komite yang bernama Komite Hijaz yang beranggotakan para alim ulama dari berbagai daerah. Dalam rapat komite tersebutmemutuska beberapa hal, diantaranya “membentuk suatu organisasi atau Jam’iyah yang bernama NAHDLATUL ULAMA’.” Nama Nahdlatul Ulama’ adalah usulan dri KHM. Alwi Abdul Aziz.
Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :
- KH. Hsyim Asy’ari
- KH. Abdul Wahab Hasbullah
- KH.Bisyri Sansoeri
MATERI TAMBAHAN :
Mata Pelajaran : ASWAJA/Ke-NU-anKelas : I (X) SMA/SMK
PRILAKU WARGA NU
A. PRILAKU KEAGAMAAN
- Bidang Aqidah:
- Manusia wajib beusaha sedangkan Allah yang menentukan hasilnya.
- Bidang Syariah
- Bila sudah ada dalil yang jelas (sharih) dan pasti (Qath’I) waji9b dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
- Mentolelir adanya perbedaan pendapatdalam masalah furu’iyah dan mu’amalah.
- Bidang Tasawuf
- Tasawuf memberikan motivasiuntuk selalu dinamis.
- Inti ajaran Tasawuf adalah penyucian hati dan pembentukan sikap mental dalam menghambakan diri kepada Allah.
B. PRILAKU KEMASYARAKATAN
- Menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-norma ajaran Islam
- Mendahulukan kepentingan bersama ari pada kepentingan pribadi
- Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dalam berhikmad dan berjuang
- mengusahakan terwujudnya persaudaraan (Ukhuwah, persatuan (Ittihad), dan saling mengasihi ( Taharum)
C. PRILAKU EKONOMI
- As Shidqu ; kejujuran, kesungguhan dan keterbukaan
- Al Amanah wal Wafa Bil’ahd : dapt dipercaya, setia, tepat janji
- Al Adalah : adil, obyektif, proporsional dan taat asas.
D. PRILAKU POLITIK
- Demokratis
- Konstitusional
- Taat hukum
- mengembangkan musyawarah dan mufakat
- Humanisme relegius (Insaniyah-Diniyah) : peduli dengan nilai kemanusiaan yang agamais
- Terbuka baik dalam lintas agama, suku, ras, dan golongan.
E. PRILAKU BUDAYA
- Proprosional Normatif: masalah kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar
- Obyektif dan Selektif
- Elastis
F. PRILAKUSEBAGAI ANGGOTA ORGANISASI NU
Ada lima hal sikap prilaku warga NU dalam berorganisasi (Panca Gerakan Idiologi), yaitu :- Ats Tsaqifah bi NU : Yakin dan percaya sepenuhnya terhadap NU
- Al Ma’arif wal Istiqon bi NU : bisa memberi bobot ilmiah terhadap NU dengan sungguh-sungguh
- Al Amal bi Ta’limi NU : Istiqomah dan konsisten dalm mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU
- Al Jihad fi Sabili NU ; selalu bersemangat dalam memperjuangkan NU
- Ash Sabr fi Sabili NU : sabar, tangguh, dan tabah dalam ber-NU.
MASUKNYA ISLAM DAN BERKEMBANGNYA KEI INDONESIA
- A. SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
- Teori Gujarat: Menutut teori ini Islammasuk ke Indonesia pertama kali dari Gujarat (India) pada abad ke 12-13 M. Hal ini dibuktikan dengan :
- Adanya persamaan Batu Nisan di Cambay, Gujarat dangan Batu Nisan yang ada di Pasai (Aceh) bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H / 27 September 1428 M dan Batu Nisan di Gresik (makam Maulana Malik Ibrahim) bertanggal 822 H / 1419 M.
- Pada waktu itu para pedagang Arab yang singgah di Gujarat dalam rangka perdagangan timur tengah dengan Indonesia.
- Teori Arabia :Islam masuk pertama kali masuk ke Indonesia langsung dari Arab pada abad 1 H atau abad 7-8 M, hal ini dibuktikan dengan :
- Adanya perkampungan arab (Pekojan) di pesisir utara pantai Sumatra (Aceh) pada tahun 684 M.
- Pada tahun 632 M para saudagara arab melakukan ekspedisi perdagangan ke Cina, namun sebelumnya singgah dulu di Aceh, sejak saat itulah awal Islam masuk ke Indonesia.
- 3. Teori Persia : Islam di Indonesia berasal dari Persia, hal didasarkan atas persamaan budaya, yaitu :
- Peringatan 10 Muharram (Syuro) sebagai peringatan Syi’ah terhadap Syahidnya Husain.
- Ada persamaan ajaran Wahdatul Wujudi Hamzah Fansuri dan Syeikh siti Jenar dengan ajaran Sufi Pesia, Al Hallaj (wafat 922 M)
- Penggunaan istilah Persia dalam tanda bunyi harokat dalampengajian Al Qur’an
- Mayoritas bermadzhab Syafi’i.
- Pada tahun 674 M raja Ta-cheh (Muawiyah) mengirim utusan ke kerajaan Kalingga untuk mengetahui keadaan kerajaan tersebut. Berdasarkan utusan tersebut diketahui bahwa pada waktu itu sudah ada penduduk yang beragama Islam.
- Di desa Leran, Manyar, Gresik ditemukan makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475-495 H (1082-1101 M)
Berdasarkan pemaparan teori di atas dapat disimpulkan bahwa, Islam pertama kali masuk ke Indonsia pada abad 1 H /7-8 M langsung dari Arab, namun dapat berkembang dengan pesat pada abad ke 12-13 M, hal ini ditandai dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai, dimana budaya Islam yang berkembang adalah budaya Islam Persia.
- B. TOKOH - TOKOH PENYEBAR ISLAM DI INDONESIA
- 1. Sumatra
- Syeikh Ismail, Seorang ulama Makkah yang tinggal di Pasai. Beliau berhasil mengislamkan Meurah Silu yang berganti nama Malikus Shalih (raja Samudra Pasai pertama).
- Syeikh Abdullah Al Yamani, ulama Makkah, berhasil mengislamkan penguasa Kedah yang berganti nama Sultan Muzahffar Syah.
- Said Mahmud Al Hadramut, berhasil mengislamkan Raja Guru Marsakot dan rakyatnya yang berada di wilayah Barus (Sumatra Utara)
- Syeikh Burhanudin Ulakan, Ulama Minangkabau penganut tarekat Syatariyah
- Sayyid Usman Syahabudin, Ulama Riau yang menyiarkan Islam di kerajaan Siak.
- 2. Jawa
|
a. Maulana Malik Ibrahim
|
f. Sunan Drajat (Syarifudin Hasyim)
|
|
b. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
|
g. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah
|
|
c. Sunan Giri (Raden Paku)
|
h. Sunan Kalijaga (Raden Mas Sahid)
|
|
d. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
|
i. Sunan Muria (Raden Prawoto)
|
|
e. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
| |
- 3. Daerah Lain
- Kalimantan : Tuan Tunggang dan Datuk ri Bandang
- Sulawesi : Maulana Husain (ternate), Syeikh Mansur (Tidore), Katib Sulung, Datuk ri Patimang, (Goa), Sayyid Zeun al Alydrus dan Syarif Ali (Bugis).
- Nusa Tenggara : Sunan Prapen, Habib Husain bin umar dan Habib Abdullah Abbas (Lombok), Syarif Abdurrahman Al Gadri (Sumba), Syeikh Abdurrahman (Sumbawa dan Timor), Pangeran Suryo Mataram (Kupang).
- C. FAHAM KEISLAMAN YANG BERKEMBANG DI INDONESIA
Secara Harfiyah Ahlusunnah wal Jama’ah berasal dari tiga kata :
- Ahlu ; keluarga, golongan atau pengikut
- Al Sunnah ; segala sesuatu yang diajarkan dan diamalkan Rasulullah SAW.
- Jama’ah ; para shahabat, apa yang disepakati para shahabat pada masa Khulafaur Rosidin.
Faham ini di pelopori oleh ; Imam As’ary dan Imam Maturidi.
- D. LATIHAN SOAL
- Jelaskan teori – teori masuknya Islam di Indonesia :
- Teori Gujarat
- Tepri Persia
- Jelaskan faham Keislaman yang berkembang di Indonesia ?
- Apa yang kamu ketahui tentang Ahlusunnah Wal Jama’ah ?
- Sebutkan nama-nama Wali Songo ?
- Sebutkan tokoh-tokoh penyebar Islam di
- Kalimantan
- Sulawesi
- Madura
- Nusa Tenggara
BAB II
STRATEGI DAN PENYEBARAN ISLAM
DI INDONESIA
- A. STRATEGI DAKWAH ISLAMIYAH
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
Dalam mengemban dakwah Islamiyah, para Da’i atau Mubaligh tidak menempuh jalan kekerasan, namun lebih memilih jalan damai. Metode dakwah dengan jalan kekerasan hanya akan memimbulkan dampak negatif baik dari segi Da’i maupun dari segi dakwah Islamiyah itu sendiri.
Karena tugas dakwah adalah tugas setiap umat Islam, maka kegiaytan dakwah Islamiyah dilaksanakan oleh semua pihak dengan berbagai kegiatannya masing-masing. Para pedagang melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan perdagangan, para seniman melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan seni dan budaya, dan para penguasa (pemimpin) melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan pemerintahan.
- DAKWAH MELALUI KEGIATAN PEREKONOMIAN
- C. DAKWAH MELALUI KEGIATAN SENI BUDAYA
Bentuk-bentuk seni dan budaya yang digunakan sangat beragam, ada yang memanfatkan yang sudah ada namun ada yang memunculkan hal yang baru. Cabang seni yang popular digunakan adalah Wayang, Gamelan, Gending, dan seni ukir.
Inisiatif penggunaan Wayang adalah Sunan Kalijaga dengan memodifikasi bentuk dan isi ceritanya. Di dalamnya diselingi gending-gending yang berupa syair-syair yang berisi ajaran agama, pendidikan, dan falsafah kehidupan. Budaya yang masih dipeertahankan sebagai media dakwah ialah Kenduri dan Selametan, dimana niat dan isinya diubah dan diaganti nilai-nilai keislaman.
- D. DAKWAH MELALUI PERKAWINAN
- Karena Islam tidak membedakan status masyarakat.
- Kebutuhan biologis, para pedagang biasanya tidak membawa istri dalam muhibahnya. Para pribumi juga membiarkan perkawinan anak-anakya dengan pedagang muslim untuk memperoleh status social dan ekonomi yang kuat.
- Faktor politik, dengan menikahi putri bangsawan maka akan meningkatkan status social dan ekonomi sehingga memudahkan untuk berdakwah.
- E. DAKWAH MELALUI POLITIK DAN PEMERINTAHAN
Di antara para tokoh yang berhasil ialah Syeikh Ismail yang berhasil mengislamkan Merah Silu (Malikus Shaleh raja Samudra Pertama). Di Jawa; Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) berhasil berdakwah di lingkungan kerajaan majapahit. Walaupun prabu brawijaya tidak mau masuk Islam, namun Sunan Ampel diberi kebebasan untuk berdakwah sampai ia mendirikan Pesantren di Randukuning Surabaya yang bernama Ampel Dento .
Salah satu kader Sunan Ampel adalah Raden Patah, beliau adalah putra Brawijaya V dari ibu Dharawati. Pada tahun 1462 Raden Patah diangkat menjadi adipati Bintoro (Demak), meskipun demikian beliau tetap berdakwah dan mendidik para santri di pesantren Glagahwangi. Demak berkembang dengan pesat, selain sebagai pusat pemerintahan tetapi juga sebagai pusat dakwah Islamiyah dan berkumpulnya para wali songo. Di Kota ini para wali mendirikan sebuah masjid agung pada tahun 1468 M. Melalui musyawarah para Wali maka Raden Patah diangkat menjadi Sultan di Demak, sejak saat itu berdirilah kerajaan Islam di Jawa, yaitu kerajaan Demak.
Dengan berdirinya kerajaan (pemerintahan) Islam, maka penyebaran Islam akan lebih kokoh, sehingga Islam berkembang dengan pesat di Indonesia.
PONDOK PESANTREN
- A. LATAR BELAKANG BERDIRINYA PONDOK PESANTREN
Pondok adalah rumah atau tempat tinggal sederhana, disamping itu kata “Pondok” berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti asrama. Sedangkan Istilah pesantren berasal dari kata Shastri (India) yang berarti Orang yang mengetahui kitab suci (Hindu). Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Dalam bahasa Jawa mnejadi Santri dengan mendapat awalan Pe dan akhiran an menjadi Pesantren :Sebuah pusat pendidikan Islam tradisional atau pondok untuk para siswa sebagai model sekolah agama di Jawa.
Di Aceh Pesantren disebut : dayah, Rangkang, Meunasah. Pasundan disebut Pondok, dan di Minangkabau disebut Surau. Pimpinan pesantren tertinggi (Pengasuh) disebut Kyai (jawa), Tengku (Aceh), Datuk atau Buya (Minangkabau), Abah/Ajengan (Sunda).
Tokoh yang pertama mnedirikan pesantren adalah Maulana malik Ibrahim (w. 1419M), beliau menggunakan Masjid dan pesantren untuk pengajaran ilmu-ilmu agama yang akhirnya melahirkan tokoh-tokoh wali songo. Pada taraf permulaan bentuk pesantren sangat sederhana, kegiatan pendidikan dilakukan di masjid dengan beberapa santri. Ketika Raden Rahmad (Sunan Ampel) mendirikan pesantren (Ampel Dento) hanya memiliki tiga orang santri. Para santri yang telah selesai belajarnya di Pesantren Ampel Dento kemudian mendirikan pesantren baru. Salah satunya adalah Raden Paku (Sunan Giri) yang mendirikan Pesantren d desa Sidomukti, Gresik yang bernama Giri Kedaton.
Pesantren Giri Kedaton memiliki santri dari berbagai daerah, seperti jawa, Madura, Lombok, Sumbawa, Makasar, Ternate, dan lain-lain. Setiap santri kemudian mendirikan pesantren di daerahnya masing-maisng dengan demikian pesantren dapat berkembang dengan pesat.
Berdasarkan sejarah berdirinya, maka tujuan berdirinya pesantren ialah :
- Sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pembentuk kader-kader ulama
- Sebagai benteng pertahanan dan pengawal bagi keberlagsungan dakwah Islamiyah di Indonesia.
- B. FUNGSI DAN PERAN PESANTREN DALAM PENYEBARAN ISLAM
Tradisi pesantren memiliki sejarah panjang. Oleh karena itu, situasi dan peranan Pesantren dewasa ini harus dilihat dalam hubungan perkembangan Islam jangka panjang, baik di Indonesia maupun di negara-negara Islam pada umumnya.
Sesuai dengan perkembangan jaman maka pondok pesantren saat ini dilengkapi dengan ilmu-ilmu umum dan berbagai ketrampilan. Hal ini untuk membekali para santri agar tidak gagap dengan perkembangan IPTEK dan dapat berperan aktif dalam masyarakat luas.
Pendidikan di Pesantren bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowliege) tetapi juga transfer nilai (transfer of value), sehingga akan mampu mencetak santri yang menguasai ilmu-ilmu agama, mengamalkan ilmunya dengan ikhlas, dan menjadi orang yang sholeh apapun profesinya.
- C. METODE KAJIAN YANG DILAKUKAN DI PESANTREN
Setidaknya ada tiga jenis ilmu keislaman yang secara istiqomah diajarkan di pesantren, yaitu : Aqidah (Kalam), Fiqh (Syari’ah), dan Akhlaq (tasawuf). Ketiga ilmu tersebut digali dan dipelajari dari sumber kitab-kitab salaf (kitab kuning) yang disusun oleh para ulama Ahlusunnah wal Jama’ah.
Sistem pembelajaran di Pesantren meliputi :
- Sorogan, Kyai/Ustadz mengajar para santri satu persatu, tanpa membedakan umur dan jenjang pendidikan.(kelas). Contoh : sorogan Qur’an, sorogan Kitab dan lain-lain.
- 2. Bandungan, Kyai/Ustadz mengajar para santri secara bersama-sama tanpa membedakan umur dan kelas. System ini biasanya dilakukan pada waktu tertentu dan pada materi tertentu, seperti pengajian akhlaq, Hadits, Pengajian Romadlon, dan lain lain.
- 3. Madrasy / Kalsikal, system pembelajaran dengan cara klasikal, para santri dikelompokan sesuai umur dan tingkat kemampuannya. Dalam pendidikan Pesantren dikenal jenjang pendidikan yaitu :Awaliyyah, Wustho, Ulya, Ma’had ‘Ali.
- Pesantren Al Qur’an, Pesantren yang secara khusus mempelajari Al Qur’an dan mencetak para Hafidz fdan Hafidzah.
- Pesantren Kitab, Pesantren yang secara khusus mempelajari ilmu-ilmu fiqh
- Pesantren Alat, pesantren yang secara khusus mempelajari ilmu-ilmu Bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu, Shorof, dan lain-lain.
- Pesanten Salafiyyah, Pesantren yang tidak menyediakan pendidikan formal, sehingga para santri hanya khusus belajar di pesantren. Pesantren Salafiyah secara khusus mempelajari satu bidang keilmuan, seperti fiqh, Hadits, atuapun ilmu alat.
- Pesantren Modern, Pesantren yang menyediakan pendidikan formal, sehingga para santri selain belajar di pesantren juga menempuh pendidikan formal.
- Pesantren Perpaduan , Pesantren yang menyediakan pendidikan formal, tapi dalam system pembelajaranya juga mengikuti system Salafiyyah.
Sebagai lembaga Tafaqquh fiddin (memperdalam agama) pondok pesantren mempunyai jiwa yang membedakan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainya. Jiwa pondok pesantren tersebut dinamakan “Panca Jiwa Pesantren”, yaitu :
- Jiwa keikhlasan , jiwa ini terbentuk oleh suatu keyakinan bahwa semua perbuatan (baik atau buruk) pasti akan di balas oleh Allah SWT, jadi beramal tanpa pamrih tanpa mengahrapkan keuntungan duniawi.
- Jiwa Kesederhanaan, sederhana bukan berarti pasif tetapi mengandung unsur kekuatan dan kaetabahan hati serta penguasaan diri dalam mengahadapi dalam mengahdapi segala kesulitan.
- Jiwa Persaudaraan yang Demokratis, segala perbedaan dipesantren tidak menjadi penghalang dalam jalinan ukhuwah (persaudaraan) dan Ta’awun (saling menolong).
- Jiwa kemandirian, pesantren harus mampu mandiri dengan kekuatannnya sendiri.
- Jiwa Bebas, bebas dalam membentuk jalan hidup dan menetukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimis mengahadapi berbagai problematika hidup berdaqsarkan nilai-nilai ajaran Islam. Kebebasan jiwa pondok pesantren juga berarti tidak terpengaruh dan didikte oleh dunia luar.
Materi Ke NU-an
1. Sejarah kelahiran NU dan perkembangannya
2. Sejarah berdirinya NU lokal
3. Bentuk dan sistem organisasi NU ( tujuan, struktur organisasi dan perangkat organisasi )
4. Pengertian dan kedudukan ulama dalam NU
5. Faktor – faktor dominan NU yaitu faktor kepemimpinan dan keanggotaan NU serta faktor keagamaan NU
Tujuan :
1. Memahami sejarah dan perkembangan baik nasional maupun lokal
2. Memahami bentuk dan sistem organisasi NU
3. Memahami kedudukan Ulama dalam NU
4. Memahamai faktor dominan NU baik faktor kepemimpinan, keanggotaan serta faktor keagamaan
Sejarah NU
Sesungguhnya pendorong berdirinya NU oleh para ulama dan kaum pesantren adalah semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya kerjasama yang lebih teratur antara mereka didalam memperjuangkan izzul islam wal mukminin dalam bingkai ahlusunah waljamaah.
Dorongan kerjasama ini dipicu oleh peristiwa “Konperensi Khilafah” yang diadakan oleh permeritah Saudi Arabia, sebab setelah selesai perang dunia ke- 2 dan Kesultanan Turki diakui sebagai khilafah islamiyah jatuh karena revolusi yang dipimpina oleh Kamal Atatruk rupanya Pemerintah Saudi Arabia berambisi untuk memangku “Khilafah Turki” tersebut. Maka dirancanglah Konperensi International Khilafah Islamiyah di Mekkah dan diundanglah perwakilan – perwakilan Negara-negara islam, termasuk Indonesia. Di Indinesia sudah terbentuk sebuah Komite (panitia) untuk mengirim utusan kesana, termasuk KH. Wahab Hasbullah sebagai perwakilan Ulama serta beberapa tokoh-tokoh lain yang mewakili organisasi besar Islam Indonesia.
Dengan alasan yang kurang maton susunan Anggota Komite berubah, KH. Wahab Hasbullah tidak jadi masuk menjadi anggota delegasi, karena tidak “mewakili organisasi” apapun, secara tidak langsung ini sebuah penghinaan terhadap ulama pesantren yang sesungguhnya besar pengaruhnya dan posisinya terhadap umat Islam di Indonesia.
Karena kemungkinan bergabung dengan delegasi umat Islam Indonesia sudah tertutup, maka para Ulama berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mengirim delegasi Ulama Ahlu sunnah wal jamaah Indonesia menghadap Pemerintah Saudi Arabia. Untuk keperluan itu maka dibentuklah “Komite Hijaz” sebuah panitia untuk memobilisasi kekuatan dan dukungan umat bagi terlaksananya kerja besar ini.
Segala kebutuhan dapat disapkan meskipun dalam keadaan pas-pasan. Delegasinya hanya KH. Wahab Hasbullah sendiri, seorang penasehat dari Mesir yaitu Syekh Ghonaim (untuk memperbesar wibawa delegasi)sekretarisnya diambilkan dari mahsantri Indonesia yang ada di Arab Saudi, yaitu KH. Dachlan dari Nganjuk (untuk menhemat dana) ketika delegasi akan berangkat, berbisik pikiran untuk “mempermanenkan” KOmite Hijaz itu untuk menjadi organisasi yang tetap, yaitu Nahdlatul Ulama.
Jamiyah Nahdlatul Ulama didirikan di surabya pada tanggal 6 rojab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, dengan pendirinya anatar lain : KH. Hasyim As’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Samsuri, KH. Ridwan Abdullah, KH. Mas Alwi Abdul Azizi dan lain – lain.
Tujuan, Struktur dan Perangkat Nahdlatul Ulama
Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran islam menurut Faham Ahlu sunah wal jamaah dan menganut salah satu madzhabempat, ditengah-tengah kehidupan masyarakat didalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia (AD NU Bab IV pasal 5).
Struktur organisasi Nahdlatul Ulama adalah :
Pengurus Besar di Jakarta§
Pengurus Wilayah Di Provinsi§
Pengurus Cabang di Kota/Kabupaten§
Pengurus Majlis Wakil Cabang di Kecamatan§
Pengurus Ranting di Desa atau Kabupaten§
Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama :
• Lembaga adalah perangkat departemenisasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama, khususnya yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
• Lajnah adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan program Nahdlatul Ulama menangani penanganan khusus
• Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang befungsi membantu malaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama khususnya yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu yang beranggotakan perseorangan.
Posisi dan Fungsi Ulama dalam NU
Sebagaimana pada alinia 2 butir mukoddimah Khittoh NU di sebutkan : Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah Diniyah adalah wadah bagi ulama dan pengiakut-pengikutnya yang didirikan pada 16 rojab 1344 H/31 Januari 1926 M, dengan tujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam berhaluan ahlusunnah wal jamaah dan menganut salahsatu madzhab empat masing-masing : Imam Abu Hanifah An Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, dan Imam Ahmad Bin Hmabal, serta untuk mempersatukan langkahpara ulama dan pengikutnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk kemaslakhatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia.
Dasar – dasar faham keagamaan NU
• Sumber – sumber ajaran Islam diambil dari :
1. Al – Qur’an
2. Al – Hadist
3. Al Ijma’
4. Al Qiyas
• Menggunakan system bermadzhab :
a. Aqidah : Aswajah sebagaimana dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi
b. Fiqh : salah madzhab empat : Hanafi, maliki, Syafi’I dan Hambali
c. Tashawwuf : Imam Junaid Al Bagdadi, Imam Ghozali dan lain – lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar